Sabtu, 21 Mei 2016

Tentang VanVin alias Chappy

Halo Kakak-kakak #SahabatMpus semua,dimana pun kakak berada,kapan pun dan bagaimana pun keadaannya, semoga selalu dalam berkah.
Perkenalkan,namaku Vanvin, aliasChappy. Umurkusekitar 4 bulan, Aku ditemukan oleh Kakak HunZ di sebuah toko ritel di dekat tempat wisata air di bilangan maguwoharjo. Kakak HunZ menemukanku berada di dalam selokan, dengan kondisi tubuh bagian pinggang ke bawah tak bisa kugerakkan. Karena Kakak HunZ harus bekerja,dibawalah aku ke tempat kakak HunZ bekerja sambil memanggil dokter hewan on call. Sayangnya tidak ada respon.
Kemudian,kebetulan Kakak HunZ sedang memantau media sosialnya, Kakak HunZ melihat informasi bahwa Kakak Atina baru saja berduka atas kepergian Adik Mpus. Lantas Kakak HunZ segera menghubungi Kakak Atina. Kakak Atina pun datang menemui Vanvin. Kakak Atina, Kakak Enad dan Vanvin pun segera meluncur ke RSH FKH UGM. Di sana Vanvin langsung mendapat pertolongan dari Drh. Dwi Cahya. Karena Vanvin mengalami dehidrasi berat, maka Vanvin langsung diinfus. Kakak Atina bercerita kepada drh. Dwi Cahya tentang kronologis penemuan Vanvin, serta kondisi Vanvin yang tidak makan-minum apapun sejak ditemukan meski telah disediakan oleh Kakak HunZ. Kakak HunZ sempat memaksakan vitamin tetes untuk Vanvin alias Chappy. Vanvin juga tidak buang air besar / kecil sejak ditemukan oleh Kakak HunZ.
Berdasarkan diagnosis awal drh. Dwi Cahya, dilihat dari memar besar di perut bagian dalam Vanvin serta dislokasi di lutut kiri Vanvin, kemungkinan Vanvin ditabrak kendaraan bermotor. Drh menyarankan Vanvin untuk distabilkan dulu kondisinya selama +- 4 hari,baru dironsen, lalu diikuti tindakan lain.
Maka mulai Rabu sore itu, 18 Mei 2016, Vanvin resmi dirawat inap di RSH FKH UGM. Esok siangnya, Kamis 19 Mei 2016, Kakak Atina menjenguk vanvin, Vanvin senang sekali,... Vanvin sudah sangat ingin berjalan-jalan kembali. Meski menurut perawat Vanvin belum mau makan, tapi setidaknya kondisi vanvin tidak memburuk.
Sore harinya, Kakak Firdha menjenguk Vanvin, tapi Vanvin tidak bergerak! Kakak Virdha memanggil dokter dan langsung menindak Vanvin dengan pacu jantung. Sayang sekali,Vanvin akhirnya menyusul Mpus.
Terima kasih banyak atas bantuan doa,dukungan, semangat dan kiriman energi untuk Vanvin dari kakak-kakak semua. Semoga diganti dengan yang jauh lebih baik.
Adapun total biaya perawatan Vanvin adalah Rp. 240.100 -,
Sedangkan saldo donasi #SahabatMpus adalah Rp. 6.246.201 -, sehingga saldo Donasi #SahabatMpus adalah Rp. 6.006.101 -,

Terima Kasih Banyak Kakak-kakak, mari selamatkan kawan-kawan mpus yang lain 

Selasa, 17 Mei 2016

Laporan Pertanggung Jawaban #SaveKucingMasjidPogung

Selamat siang kakak-kakak semua,

Teriring terima kasih banyak atas segala dukungan untuk Mpus yang diduga tertembak senapan Angin.

Setelah tiga hari yang penuh drama dan haru, yakni sejak senin pagi ditemukan lemas oleh rekan-rekan masjid Pogung, lalu bertemu dengan saya, menuju Klinik Kuningan yang ternyata tutup, hingga perjuangan di ruang intensif RSH FKH UGM; akhirnya Mpus menghembuskan nafas terakhirnya pukul 21:10 WIB karena komplikasi gangguan pernafasan akibat hernia diafragma dan lubang di abdomen yang melubangi lambung (perferasi gastrium) sehingga menimbulkan akumulasi gas dan peritonitis (terlampir surat keterangan kematian dari RSH FKH UGM)

Terima kasih atas segala doa,
terima kasih atas segala kiriman energi reiki untuk mpus,
Terima kasih untuk segala donasi untuk mpus dari: Kakak Ika M, Kakak Dama, Kakak Anisa, Kakak Bea, Kakak Ryan, Kakak Aktari, Mrs. M, Kakak Annirahmah, Kakak Ringgo Y, Kakak Hasan, Kakak Belinda, Kakak Sheila, serta kakak-kakak lain yang tidak menyebutkan nama. Semoga diberi ganti yang jauh lebih baik dan barokah dari Tuhan.

Tak lupa Kakak Calon Dokter Hewan Dani dan rekan-rekan yang telah menanganimpuss sepenuh hati di Klinik Kuningan, drh. Kurnia dan rekan-rekan di RSH FKH UGM yang telah berjuang semaksimal mungkin, Kakak Tari yang telah menyediakan diri untuk merawat mpuss bila selesai perawatan, serta Kakak Firdha yang telah menemani Kakak Atina mengambil jenazah mpuss di RSH FKH UGM.
Donasi yang terkumpul hingga Rabu, 18 Mei 2016 pukul 12:00WIB berjumlah Rp. 5.920.001-,
Adapun pengeluaran yang dilakukan adala:
Biaya RSH FKH UGM sebesar Rp. 263.800 -,
Serta aktivasi +biaya sms banking agar ada notifikasi di nomor saya untuk setiap donasi dari kakak sekalian sejumlah Rp. 100.000.
Sehingga total biaya yang dikeluarkan adalah Rp. 363.800.

Kelebihan dana donasi adalah Rp. 5.920.001 – Rp. 363.800 = Rp. 5.556.201 -,

Sungguh rangkaian partisipasi yang luar biasa dari kakak-kakak sekalian untuk mpus.
Bahkan tengah malam lalu saya telah menyampaikan kondisi terkini mpus, donasi terus mengalir.

Setelah menerima masukan dari berbagai pihak,
dengan dukungan penuh seorang kawan yang merasa menjadi saksi mata kejadian, insya Allah usaha #SaveKucingMasjidPogung tidak akan berhenti. Usaha medis telah dilakukan, saat ini saya dan teman-teman sedang menyusun materi Kampanye penggunaan Senapan Angin yang sesuai ketentuan.

Sebab menurut saksi mata, mpus terlihat segar terakhir saat dibawa-bawa oleh dua anak kecil usia SD yang membawa-bawa senapan angin. Tak lama kemudia, ada suara tembakan, dan mpus tidak terlihat. Mpus kembali muncul pada senin pagi dengan kondisi lemas. Hal ini dikuatkan oleh bentuk luka bulat, dalam, rapi seperti liang serta hasil ronsen yang membenarkan adanya peluru karet di dalam badan.

Teman lain juga menyampaikan bahwa di daerah itu ternyata sering terjadi kasus penembakan kucing. Bahkan, adik saya yang sekarang kelas 2 SMP pernah ditembak lehernya dengan senapan angin oleh temannya sendiri karena dianggap mainan dulu saat di kelas bawah Sekolah Dasar.
Saya kira ini adalah sinyalemen penggunaan senapan angin yang benar-benar tidak sesuai ketentuan. Sebab mendapatkan lisensi menembak harus memiliki KTP terlebih dahulu, telah mengikuti klub menembak,dsb.

Tentu saja tidak menutup kemungkinan donasi yang terkumpul disalurkan ke kucing liar lain yang bernasib malang. Semoga menjadi berkah, amin.


Selamat Tinggal Mpus..

Dear rekan-rekan seperjuangan #SaveKucingMasjidPogung,

Terima kasih banyak untuk dukungan untuk mpus, yang bahkan belum bernama.

Dengan dukungan rekan-rekan semua (Kata Bu Dokter, Mpus merasakan dukungan dari kakak untuknya sampai titik penghabisan) Mpus terus berjuang.

Setelah ditangani oleh kakak-kakak Dokter hewan di Klinik Hewan UGM di kuningan, ternyata lukanya lebih serius dari yang terlihat.
Mpus dirujuk ke Rumah Sakit Hewan Dr Soeparwi, Fakultas Kedokteran Hewan UGM.

Di sana mpus dironsen, dan telah dijadwalkan akan operasi penjahitan dinding perut, lambung dan diafragma pada keesokan harinya, Rabu 18 Mei 2016 pukul 10.00 WIB.

Mpus cukup tenang pada sore hari sebelum ditinggal Kakak Atina.

Lalu malam ini, mpus berjuang sepenuh tenaga...

Pukul 20:39 WIB, pihak RSH menelepon Kakak Atina untuk menyampaikan bahwa Mpus sedang berjuang melewati masa Kritis, sekaligus mohon persetujuan tindakan pacu jantung dan bantuan oksigen.

Mpus dipacu jantung dan dibantu Oksigen, semua berkat dukungan kakak-kakak sekalian.

Stelah perjuangan yang luar biasa, dua puluh tiga menit yang lalu: pukul 22:22 WIB, Dokter kembali menelepon Kakak Atina, menyampaikan bahwa Mpus telah berjuang keras melewati masa kritis. Sekeras perjuangan dokter dan tim untuk memperjuangkan kehidupan bagi mpus.

Tapi ternyata Tuhan punya rencana yang lebih indah untuk Mpus,
Ia jemput mpus di antara perjuangan kerasnya, di antara doa kuat yang mengalir dari Kakak-kakak,di antara peluh Tim Dokter...

Mpus insya Allah tenang disisiNya, kata Bu Dokter.

Kata seorang kawan Kakak Atina,
Mpus telah membuktikan bahwa nyawa, sekecil apapun,layak diperjuangkan hingga titik darah penghabisan.

Terima kasih atas segala doa,
terima kasih atas segala kiriman energi reiki untuk mpus,
Terima kasih untuk segala donasi untuk mpus,
Insya Allah Mpus sudah tersenyum di sana.

P.S:
Kronologis perawatan Mpus akan diberikan Dokter esok saat RSH sudah buka, sekaligus menjemput jenazah Mpus.
Donasi sampai Selasa malam terkumpul Rp. 4.770.001
Insya Allah akan digunakan untuk melunasi biaya perawatan Mpus,
Lebihnya (yang pasti akan sangat banyak) akan disumbangkan ke lembaga yang mendedikasikan diri ke perawatan kucing liar.
adakah referensi?

#SaveKucingMasjidPogung

Dear Teman-teman,
Mohon bantuan untuk kucing malang ini serta bantuan untuk mengeshare agar jadi pelajaran bersama.

((Edit Rabu Pagi, 18 Mei 2016: semalam mpus tidak bertahan, kronologi Silahkan Cek update tulisan))

Kronologi:
Senin sore ditemukan di pelataran masjid daerah Pogung Lor, kondisi berbaring lemas, dikira kelaparan, ternyata ada luka semacam bisul bernanah di perut besar sekali, tidak mau makan / minum.
Mau dibawa ke klinik hewan kuningan, tapi sudah tutup.
Penanganan awal: disuap susu dengan pipet, tidak mau.

Selasa siang #Kucing Masjid Pogung dibawa ke klinik hewan kuningan, dikeluarkan nanahnya, terbukalah lubang sebesar kelingking, mengeluarkan cairan lambung beserta susu yang sejak malam disuap-paksakan.
Klinik hewan kuningan tidak sanggup menangani. Dirujuk ke RSH FKH UGM karena di sana bisa ronsen dan bisa operasi.

Di RSH FKH UGM dironsen,
hasil:
positif ada peluru yang sudah berpindah ke kaki (tidak masalah sekarang, tidak harus diambil)
Luka tembak menyobek:
1.       Dinding perut (menyebabkan udara masuk ke rongga perut)
2.       Diafragma à nama kasus hernia diafragma (organ perut naik ke rongga dada, menghimpit rongga dada, kucing kesulitan bernapas, merendam paru)
3.       Lambung (cairan lambung keluar ke rongga perut – jika dibiarkan jadi infeksi perut. Di sisi lain, udara juga masuk ke dalam lambung à dilatasi lambung)

Kondisi saat ini lemah, dehidrasi berat, tidak bisa lagsung ditindak.
penanganan sementara diinfus, diberi obat penguat otot paru agar kuat napas melalui infus, baru bisa dioperasi besoknya (Rabu)

Ada jadwal operasi besok Rabu 18 Mei 2016 pukul 10.00 WIB
bila setuju operasi, maksimal jam 9 sudah kasih persetujuan operasi + bayar DP.
Perkiraan biaya ke depan:
Operasi +- Rp. 1.500.000
Opname untuk pemulihan +- 1 minggu (Rp. 50.000/day) = Rp.500.000
Berarti kira-kira akan perlu 2 jutaan.
Biaya yang sudah dikeluarkan: Ronsen, infus, periksa, DP rawat inap dsb (Rp.300.000)

menurut dokter,hari ini sampai besok adalah masa kritis #KucingBR, bisa saja sebelum operasi sudah tidak terselamatkan.
Bila operasi berhasil, harus pemulihan sampai bisa makan normal.

Catatan penting:
Total biaya besar gaess,
tadi setelah dikeluarin nanahnya, dia agak legaan dikit, tapi secara medis bukan jaminan dia akan survive, karena menurut dokter, ini kasus sangat berat dan kompleks.
Kondisi sekarang sama sekali tidak bisa makan-minum karena lambung bolong.


Catatan maha penting:
Tingkat keberhasilan operasi diafragma hanya +- 10% gaes...

Jika dirasa berat,
(chance kecil, biaya besar)
maka alternatifnya adalah disuntik mati saja...

Tapi kalau mau coba sak pol kemampuan,

Setidaknya kita sudah mencoba melakukan yang terbaik yan bisa kita lakukan...

Selasa, 05 April 2016

Kekinian, kenapa tidak?

Kekinian, Kenapa Tidak?

 

Pagi tadi sebuah akun ig sekumpulan anak muda yang menyebut diri mereka ‘Remaja Masjid’ mengangkat sebuah topik menarik. Diinisiasi oleh sebuah pertanyaan tentang bagaimana mengingatkan teman yang ‘kekinian berlebihan’, akun ini mencoba berbagi pandangan tentang menjadi kekinian dari sudut pandang agama.

Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa eksistensi (baca: self actualization) adalah salah satu dari lima kebutuhan dasar menurut Maslow. Maka, di era serba digital ini, media sosial laris manis bak kacang goreng jadi ajang mencari eksistensi diri. Tren kekinian adalah hal yang tak terhindarkan. Bahkan, kegiatan ekonomi telah merambah dunia serba digital yang membuat kita mau tidak mau terlibat dalam dunia maya.

Menyikapi fenomena ini dengan berbagai pendekatan, termasuk pendekatan agama, merupakan hal yang lumrah. Tapi di era banjir digital ini, dan di tengah masa pencarian jati diri para remaja, apakah pendekatan agama ini efektif?

Barangkali, yang kita butuhkan justru pembukaan ruang sebesar-besarnya bagi rekan-rekan Remaja Masjid untuk mewujudkan eksistensi dirinya, yang sesuai dengan tuntunan yang berlaku. Berikan apresiasi pada ketertarikan remaja masa kini sambil mendampingi mereka agar tetap dalam koridor yang telah ditentukan. Mana tau dari ruang ekspresi ini lahir fotografer kawakan yang nantinya bisa support acara-acara Remaja Masjid?

Yang perlu diingat adalah tadi, sesuai dengan koridor. Maka, daripada kita fokus pada preseden buruk, kenapa gak kita fokus pada contoh baiknya seperti apa. Mari kita bekali para remaja masa kini tak hanya dengan gadget mewah sebagai alat penyalur hobi mereka, tapi juga tata cara, etika dan tanggung jawab lain dalam berkarya.

 Analoginya, kenapa harus ribut daging babi itu haram, sedangkan yang halal dimakan itu (luar biasa) banyak? Kenapa harus fokus pada akun sebelah yang dirasa tidak syar’i, sedangkan banyak akun tetangga yang kontennya baik, bagus, dan sesuai tuntunan agama, yang bisa dijadikan contoh dalam berkarya yang ‘sesuai koridor’.

Pendekatan ini,sesuai dengan prinsip pendidikan adalah proses perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Fokus pada perubahan perilaku yang lebih baik dengan mengapresiasi setiap hal baik yang ada. Ketika terus menerus mendorong perilaku baik sampai menjadi kebiasaan, maka di situlah esensi pendidikan terwujud.

Otak kita cenderung menangkap repetisi kata kerja, bukan negasi yang dikenakan pada kata kerja. Berkali-kali mengucapkan ‘jangan lihat’ hanya akan membuat orang tergoda untuk melihat. Daripada menekankan jangan begini- jangan begitu, lebih baik mari ini dan itu.

So, menjadi kekinian, kenapa tidak?

Jumat, 01 April 2016

Sosmed, Foto dan Nama

Dalam jangka waktu seminggu ini saya terpancing membuat kultwit dengan tagar #PP (Profile Picture) dan #ProfileName di dua momen yang berbeda. Tagar pertama, yaitu tentang Profile Picture saya buat karena akhir-akhir ini muncul nomor baru menghubungi saya via WA. Sudah ujug-ujug nanya mbak bisa bantuin begini begitu tidak, tanpa menyebut nama, eh fotonya juga tidak membantu untuk mengenali ‘siapakah dia?’.

Beberapa minggu sebelumnya, adik saya sendiri sempat mengganti foto profil linenya dengan foto kedua orang tua kami. Lucu gak sih kalau di dalam grup line yang isinya anak-anak muda, tetiba nongol foto bapak-bapak sekaligus emak-emak di deretan foto anggota grup di bagian atas jendela?

Lalu siang ini, saat sedang diskusi di sebuah grup, sebuah akun dengan smile di #ProfileName-nya ikutan nimbrung. Diskusi langsung petjah dengan pertanyaan: "Siapa kamuuuuu?". Anda mungkin pernah mengalami hal serupa. Masuk ke sebuah grup yg belum semua anggotanya kita kenal (apalagi kita simpan kontaknya di gawai kita dengan nama ala kita), lalu saat ngecek ke anggota grup, ada simbol-simbol, ikon atau karakternya tak terbaca yang membuat kita tak bisa mengenali pemilik sebuah akun.
Pas nengok foto profilnya pun gak membantu~~~

Terlepas dari lucu atau enggaknya, seperti saya ulas di kultwit, foto dan nama profil adalah bagian dari identitas akun anda. Kedua hal tersebut, jija digunakan dengan tepat akan membantu orang lain untuk ‘mengenali’ anda. Sebab, modalitas (kemampuan menyerap informasi, termasuk mengingat) seseorang bervariasi. Ada yang pendekatannya Visual, yakni dengan mengingat wajah / postur tubuh seseorang. Ada pula yang pendekatan paling efektifnya adalah Audio, misalnya dengan bunyi nama seseorang. Ada juga yang mengingat seseorang dengan pendekatan kinestetik, misalnya mengingat momen / kegiatan penting yang pernah dialami.

Umumnya, akun sosmed memberikan 3 ruang untuk mendeskripsikan ketiga hal tersebut di atas. Gunakan nama yang proper agar teman kita dengan modalitas audio mudah mengingat kita. Begitu pula dengan Profil Picture kita. Menggunakan foto yang sesuai akan sangat membantu orang lain mengenali kita. Bila perlu, tuliskan hal yang lekat dengan pribadi kita di biografi untuk membantu orang lain mendefinisikan ‘yang seperti apa’ kita itu.

Jadi sodara-sodara, mari gunakan #ProfilePicture, #ProfileName dan Bio yang tepat yuk J

~@kata_atina sebuah akun yang seringkali gelisah membaca tanda-tanda alam

Selasa, 29 Maret 2016

Generasi Stiker


Belakangan, telepon genggam pintar saya lebih sering mengeluarkan notifikasi. Sebab terhitung dua minggu ke belakang, perangkat saya mendadak terpasang berbagai akun media sosial kekinian. Lebih kini dari akun Whatssap yang telah saya gunakan sejak 2014. Awalnya saya bersikukuh tidak menambah jumlah aplikasi. Saya toh pengguna aktif Facebook dan twitter. Ditambah dengan blog yang baru akhir-akhir ini kembali saya isi, keempat aplikasi tersebut dirasa cukup mewadahi segala aspirasi dan inspirasi saya.

Adalah adik ke delapan alias anak ke sepuluh keluarga kami lah yang memasang LINE di perangkat saya, diikuti instagram, skype dan blogger mobile. Dan benar saja, hari demi hari berikutnya, telepon genggam saya menjadi ‘berisik’. Sejujurnya, hal ini yang sebelumnya membuat saya enggan menambah jumlah akun media sosial di samping media yang sudah saya punya sejak dulu sudah cukup memberi ruang bagi orang di sekitar saya untuk berkomunikasi dengan saya.

Masih dalam mode penyesuaian, beberapa kejadian menarik membuat saya berpikir keras. Saya yang lebih terbiasa menulis di kertas, kemudian dibanjiri postingan panjang di akun sosial media. Bukan berarti di akun terdahulu, WA, tidak ada. Ada, tapi tak sebanyak dan tak seekstrim akun yang baru saat ini, dimana pengguna tak hanya bisa sekadar berbalas pesan pribadi, tapi juga berdiskusi di grup, bahkan mempublikasikan unggahan terkini di linimasa.

Di suatu momen, salah seorang anggota grup yang berisi anak muda menyampaikan aspirasinya. Aspirasi yang diinisiasi oleh kekecewaan. Bahasanya memang cenderung keras. Maklum lah, namanya juga anak muda, kecewa pula penyebabnya. Sudah dapat diduga, reaksi negatif bermunculan.

Momen ini mengingatkan tentang betapa pentingnya menyaring sebuah informasi. Melepas bungkus dan tendensi penyampaian, fokus pada inti bahasan.
Kita tidak bisa mencegah orang lain melibatkan emosi dalam setiap percakapan daring mereka. Yang bisa kita lakukan sebagai manusia yang berusaha menjadi waras adalah berusaha objektif, mencoba menangkap inti bahasan, bahkan hikmahnya.

Kembali ke topik bahasan tentang menanggapi. Selain tanggapan negatif yang muncul, ada juga sih yang berusaha netral. Tapi kebanyakan ‘menanggapi’ dengan mengirim stiker. Tak hanya di momen penyampaian aspirasi ini. Kebanyakan interaksi di media sosial tersebut berupa stiker. Semacam mengasosiasikan situasi / pendapat / sikap terkini ke stiker. Kalau orang dulu berusaha mencoba mengejawantahkan ekspresinya dalam rangkaian kata-kata, itu juga kadang deg-deg pyar, takut salah pilih kata, sekarang ekspresi itu disimbolkan dengan stiker.

Saya termasuk yang percaya bahwa ekspresi manusia adalah hal yang kompleks. Sebuah ekspresi yang paling sederhana saja, bisa diwujudkan dalam deretan kata yang amat panjang, bahkan bisa jadi novel, itu pun belum menggambarkan keseluruhan ekspresi. Di sinilah kelebihan para penulis ‘dewa’. Mereka mampu menarasikan sebuah ekspresi mencapai tingkat detil yang melebihi rata-rata manusia lain. So, kita para pembacanya, berani membayar ‘harga’ sebuah karya demi membaca kekayaan imaji sang penulis.

Mereka yang ingin menjadi penulis handal, praktis menghadapi tantangan yang sama. Mengembangkan imajinasi, merupakan dalam diksi, merangkai kata menjadi sebuah kalimat yang logis, dan voila, mewujud jadi sebuah keutuhan ekspresi.

Sekarang, tren yang berkembang justru kebalikannya. Merupakan kompleksitas ekspresi dalam sebuah simbol bernama stiker. Kan stikernya macem-macem? Oh ya, macem-macem. Tapi ingat, manusia itu unik. Ekspresi pembuat stiker dengan orang lain pasti berbeda. Sama-sama senang, kalau diambil persentasenya, pasti beda. Belum bicara tentang latar, kontradiksinya (senang sih, tapi...) dan lain sebagainya.

Yang paling saya khawatirkan adalah pergeseran kecenderungan, pergeseran kebiasaan, hingga nantinya pergeseran karakter. Dari karakter mengembangkan, memperjelas, mendetilkan sesuatu menjadi menyederhanakan, menyamakan dan menyamaratakan.

Sekarang mungkin hanya tentang ekspresi, ke depan barangkali hal lain. Mau ini, mau itu, pengennya yang gampang, gak mau yang susah. Dibuat mudah sajalah. Anti-ribet dalam konteks yang sesungguhnya.

Kalau dalam konteks komunikasinya kita lebih terbiasa menyimbolkan segala sesuatu, wajarlah bila kemampuan memilih kata yang pas menjadi semakin jauh dari generasi sekarang.
Generasi sekarang lebih ahli memadankan stiker 'yang sesuai' dibanding menjelaskan dengan tepat sasaran.

Am I wrong?