Minggu, 27 Januari 2013

Ngomyang


Akhir pekan ini, saya menghabiskan 1/3 malam yang awal di malioboro. Setelah parkir di Pelataran Benteng Vredenburg, saya dan dua orang kawan mulai berjalan ke arah utara. Kenapa parkir di Benteng? Karena kami berniat kembali ke arah parkiran dengan TransJogja (semacam Bus TransJakarta, Kendaraan umum yang hanya berhenti antar shelter), kebetulan (atau memang disengaja, memenuhi kebutuhan pasar), ada dua shelter TransJogja di sepanjang Malioboro. Satu shelter di depan Hotel Inna Garuda, bisa dianggap sebagai Ujung Utara Jalan Malioboro, satu lagi di depan bentang Vredenburg, tempat kami parkir tadi, yang hanya berjarak beberapa meter dari kawasan Nol Kilometer.
“Saya sendiri berkesimpulan, bahwa dua shelter tersebut memang disengajakan mengapit Malioboro, sebuah tata kelola yang cukup komprehensif, dimana pusat parkir di selatan, dengan arus kendaraan ke selatan, maka perlu kendaraan umum yang mengangkut pengunjung dari utara ke selatan. Darr, itulah TransJogja!”

Oke, kembali ke topik akhir pekan ini, malam itu saya berniat mau nonton musik angklung malioboro. Pernah saya menghitung sebelumnya, kira-kira ada 3 grup musik yang ada di sana. Semuanya terletak di bahu jalan sebelah barat. Nah, untuk itu, kami menyeberang dari tempat parkir yang notabene berada di sisi timur jalan, ke arah Mirota Batik yang berada di barat jalan. Kami lantas mulai berjalan kaki menyusuri kios demi kios di kanan-kiri lorong pertokoan Malioboro.
Saat itu cukup lengang, padahal malam minggu, entah kenapa. Setelah beberapa saat berjalan, dengan diselingi window shopping di salah satu toko sepatu, serta mengincar banyak, eh salah satu dari koleksinya, kami bertemu Grup Musik pertama.
Grup Musik ini terdiri atas 7 orang, 6 pemain musik yaitu 2 pemain drum, 1 pemain kulintang, 1 pemain kenong, 1 pemukul piringan, dan 1 lagi krincingan, serta 1 penari, yang tergabung dalam grup Angklung Malioboro “Klarista”. Goyangannya cukup aneh bagi saya, ketika tau-tau ada barongsai mini, padahal musiknya musik selow gitu! Mereka memainkan beberapa lagu, sebelum akhirnya kami beranjak dari tempat itu.
Beberapa jauh lamanya kami berjalan, hingga kami kehausan, tak kunjung juga menemui Grup Musik lagi. Dengan menyesal, saya berjalan agak gontai (ini lebay, please). Karena tadi melewatkan sebuah gerobak Teh Instan merek yang biasa saya temui di beranda supermarket-supermarket. Untungnya, tak berapa lama kemudian, kami mendengar sayup-sayup suara angklung. Nah, akhirnya tiba juga kami di Grup kedua!
Berbeda jauh dari Grup pertama yang begitu kami jalan, langsung ‘ketemu’, grup ini ‘akhirnya’ kami ketemukan juga, setelah hampir putus asa kehausan (ini lebay lagi). Mana ramai pulak, tapi sebanding kok, dengan perjuangan kami tadi. Dari jauh saja, sayup-sayup suaranya sudah terdengar begitu enak didengar. Dan ketika akhirnya kami bisa melihat langsung, UUWWWOOOW!, Rame betul benar-benar sebanding dengan pesonanya. Pertama, yang maen musik emang ganteng (ini kami bahas pada saat jalan kaki balik ke Benteng; lupa dengan niat mau balik pake TransJogja, 
"entah lah, mungkin karena kami terlalu bahagia melihat cowok cakep main musik secara real di depan hidung kami), ganteng dari segala jenis kriteria kegantengan. Yang doyan abang kumis, adaaa, yang doyan cowok rada chinesse, adaaa, yang hitam manis muka imut? Ada juga! Yang model metropolis? Adaaa :D"
Kedua, musiknya benar-benar kompak, suara yang nyanyi juga cukup oke. Dan mereka berseragam kaus hitam bertuliskan ‘Satria Jogja’. Kesannya, mereka bukan sekedar pemusik jalanan gitu. Mendengar mereka bermain, saya jadi inget grup musik jebolan Indonesia Mencari Bakat jilid I, duh lupa namanya! Klantink!
Nah, setelah puas memanjakan mata dan telinga, YKWIM lah ya, kita jalan lagi ke arah utara, berharap ketemu lagi sama grup musik lain. Sayang, kami tak menemui sayup-sayup suara lagi. Tapi kami akhirnya menemukan minuman dingin! FresTea agak dingin seharga lima ribu rupiah per botol lumayan lah.
Kelar urusan dahaga, kami meutuskan untuk berbalik, kami menyeberang jalan. Melewati beberapa orang yang kurasa kukenal, tapi lupa nama mereka, yang jelas salah satu dari mereka ada yang kukenali sebagai anak pramuka, kurus, tinggi pake kacamata, giginya (maaf) agak tonggos, dan yang semakin membuatku yakin adalah, dia pakai tas pinggang Latgab Ngalam!
Tak terasa, kami hampir tiba di tempat kami memarkir kendaraan, sebelum akhirnya Christida mengajak kami untuk menengok Nol Kilometer. Entah kedamber apa gitu dia, tapi nyatanya, ide itu kuanggap ide paling brilian di malam itu, karena dengan demikian, saya jadi nonton Lomba Traditional Dance Competition!

Lomba Tari Tradisional itu,...
Bertolak belakang dengan kondisi jalan malioboro malam itu, yang semakin ke utara semakin sepi, kecuali di titik-titik tertentu, dimana massa berdiri terdiam terperangah menonton suara musik yang disuguhkan pada mereka. Jalanan dari Benteng menuju titik Nol sangat padat, dan ternyata sodara-sodara, di sana, pelataran monumen Serangan Umum 1 Maret untuk lebih tepatnya, sedang berlangsung suatu acara pagelaran tari, tadinya kupikir begitu. Yang ternyata sebuah perlombaan Tari Tradisional dari sebuah Perguruan Tinggi setengah negeri di Yogyakarta.
Kami mendapatkan spot yang cukup bikin marmos, sejujurnya, karna pandangan kami terhalangi oleh sebuah pot bunga raksasa, dengan pohonnya yang cukup besar juga. Tapi setidaknya, kami masih bisa melihat kekenesan mbak-mbak pembawa jamu gendong, yang saat itu sedang berlenggak-lenggok di tengah pelataran. Yap, mereka adalah para penari yang sedang berperan sebagai penjual jamu gendong. Meskipun kami gak paham jalan ceritanya, entah ada sinopsis atau tidak di awal, karena kami datang terlambat, kami disuguhi ending yang cukup unik. Ada semacam interaksi, lengkap dengan dialog hidup, antara penari dengan penonton via penawaran jamu gendong yang mereka bawa. Sungguh, ide yang sangat keren, lantas membuatku berpikir bahwa tarian ini keren!
Tarian keda yang kami tonton adalah tarian modifikasi dari kalimantan, entah kalimantan mana, yang jelas tariannya kayak tarinya orang dayak. Menurut kami agak aneh, ganjil, plus penari depan yang kurang kompak. Tapi toh, ternyata Juri menghadiahi mereka dengan gelar juara III.
Nah, penampilan ketiga yang kami lihat, sekaligus penari terakhir di malam itu, adalah tarian dari perguruan tinggi swasta di bilangan gejayan. Tariannya berkisah tentang seorang perempuan yang hobi bersolek, dimana dia merasa bahwa dia laha permpuan tercantik dan terseksi di antara perempuan yang ada. Tariannya cukup inovatif, dengan inovasi permainan siluet yang dihasilkan oleh lampu di belakang partisi yang ditaruh di belakang mereka.mdan cara muncul yang agak absurd, menurutku, yaitu dengan merobek kain partisi dan muncul dari sobekan kain itu. Entah maksudnya apa.
Siapa kah juaranya? Dan ternyata, Tarian Jamu Gendong lah juaranya!
Wow, rasa sesal di dalam hati saya (tiba-tiba) berkurang drastis. Setidaknya Juara I dan III kami lihat tariannya, berarti yang lain biasa aja :D

Tentang Ngomyang,...
Ah ya, saya belum menjelaskan tentang mana kata yang saya jadikan Judul. Ngomyang. Menurut Mbak Alissa Wahid, “Ngomyang artinya ngomong gak jelas, Nggruthu, kalo orang jatim”. Bagi saya sih, itu semacam ngomong sendiri, yah, semacam menggerutu, ngomel dengan suara pelan, sekedar untuk melepas uneg-uneg, tapi memang hanya untuk didengar sendiri, makanya biasanya suaranya pelan.
Dan yah, saya seringkali melakukan hal tersebut, nggrundel, kalo pake istilah saya. Yaitu tadi, Ngomyang, ngomel pelan, semacam gerutu. Kalo menurut Ibu saya, saya tuh aneh, suka ngomong sendiri, terus ketawa-ketiwi, atau senyum-senyum, atau tiba-tiba judes sendiri,...
Seperti malam ini, saya menulis notes ini sambil senyum-senyum, kadang sambil menyebutkan kata-kata yang kalo disuruh nginget tadi ngomong apa, saya sudah lupa. Ya pokoknya gitu lah. Intinya Ngomyang. Nggrundel. 

Sabtu, 26 Januari 2013

FaceBook;MukaBuku;SampulDiri?


Hello tweeemans, :D

kali ini saya akan bicara (lagi), tentang socmed. Akhirnya, bisa jadi. Jujur, tulisan ini pesanan, dipicu oleh suatu kejadian dimana 2 orang teman saya, dalam keadaan real, bersitegang di faceboook karena masalah komentar, dimana saya bahkan belum jadi teman keduanya :D

menarik, karena saya tidak melihat keseluruhan proses mereka, dan hanya fokus pada scene ini. semoga infiltrasi citra pribadi tidak mengubah kenetralan saya, #apaseh

So, ini ‘cerita’ tentang 2 orang, yang satu guru, Yang satu lagi murid.
Si Guru update sesuatu, dimana si Murid komentar sesuatu, yang membuat si Guru tak nyaman. Berbalas kata lah 2 insan itu.

ada yang bilang, sabar2,… (kalo menurutku sih itu gak menyelesaikan masalah, justru tambah panas, lo pikir guweh kurang sabar apa coba??! – mungkin lho) ada juga yang ngeloyor numpang lewat ikut cuap2, ~entah apa pun itu.

Kalau saya ditanya; “Menurutmu gimana?"
Gampang aja sih, Alhamdulillah 2 orang itu masih manusia. Yang murid gak mengkultuskan Gurunya, mungkin maksudnya bercanda kali yaa, Si Guru juga ternyata bisa tersinggung.
Tadinya saya curiga si Guru ini malaikat turun ke Bumi. Alhamdulillah Allah kasih lihat dia ‘masih’ manusia J
Sayangnya dalam keadaan nyata, saya gak ditanya,
Jadi yaaa, cuma saya jadikan tulisan saja.

Nah,
Lebih spesifiknya lagi sih, menurut saya ini media belajar kita, untuk bersikap, ngrumangsani, ~kalo kata seseorang~, dan lain sebagainya. “We never really grow up, we only learn how to act in public” masih kata sesorang.

Don’t be serious at socmed, of course, but do not wonder too when people judge you by your words. mereka bukan dukun, tweman, mereka hanya tahu apa yang kau sampaikan, utamanya secara langsung.

Inspired by: Alissa Wahid

Kau Tahu Artinya?

Pernahkah kau cinta, benar-benar cinta, jatuh cinta setengah mati,
kau cari tau semua tentangnya,
kau meyakinkan dirimu sendiri untuk bertahan mencintainya,
karena mencintai, adalah tentang melengkapi.

Tapi lantas kau jatuh,
jatuh dengan sebenarnya katuh,
demi cinta yang ternyata semu belaka.
kau bukan siapa-siapa,
kau bahkan bukan apa-apa!

pernahkah kau begitu hidup, sangat hidup,
mati berungkali tak akan sanggup menghentikanmu,
karena hidup membangkitkanmu lagi, dan lagi.
karena satu spirit,
sebuah hangat yang menyertai kebersamaanmu dengannya.

Tapi lantas kau mati, dengan mati yang sebenar-benarnya.
kau tak penting untuknya,
benar-tak penting.
hingga ketiadaanmu pun bukan sesuatu baginya.

kurasan air mata pecah,
mungkin seperti cinta bertepuk sebelah tangan,atau bahkan,
pungguk merindukan bulan.

Ah,
cinta yang sia-sia,
cinta yang bukan apa-apa,
cinta yang tak lebih dari euforia palsu...

Kamis, 24 Januari 2013

Rambut Helm dan Family Time

Terinspirasi dari model helm yang baru saja diusung Citra Skolastika di 100% Ampuh, ih gile sempet nah gue nonton :0, gue jadi inget tren rambut keluarga gue. Yah, saat-saat gue masih kecill gitu, dimana potong rambut adalah acara wajib tiap beberapa bulan sekali, dan jadi ajang family time yang hm, cukup mengesankan. Buktinya keinget sampe sekarang, hehhehe.

Dan nampaknya, kesan itu benar-benar nancep di memori adik ke enamku, Nadia, hingga kemarin Ia cerita-cerita sama kembaranku,
Suatu sore di rumah:
“Alicia itu beruntung banget ya, dia dah gak hidup di jaman ayah doyan bikin rambut helm”
Aku membayangkan saat-saat itu,
Ayahku memang memotong rambut anak-anaknya dengan bantuan helm sebagai model, poni horizontal selevel daun kuping badian atas, berbatas anak kuping, lantas bagian lain sepanjang tengkuk. Selalu begitu. Persis helm jaman dulu.
 Dan yah, sekarang Alicia ‘hidup’ di antara kecerdasan, kalau tidak bisa disebut keusilan, dari kakak-kakaknya. Berbagai macam model rambut telah Ia cicipi, dari tangan kreatif kakaknya. Selain model helm, tentu saja. Tak tanggung, cat rambut pun pernah!
“Tapi itu bukan yang paling parah kak!” sambung Nadia dengan amat antusias, mungkin menanggapi reaksi Anisa yang cukup dingin dengan jawaban “Hm” saja.
“Soalnya temen aku pernah cerita, dulu waktu dia masih kecil, Ayahnya suka banget naruh batok kelapa di kepala anaknya, untuk (panduan-red) motong rambut! Emm, Rambut Batok Kelapa mungkin ya namanya,...
” -----

 Tradisi potong rambut keluarga Hendi selalu dilakukan pada hari minggu, diawali dengan sarapan, dan mandi lebih awal. Lantas kami mengambil koran bekas, untuk kami jadikan semacam baju, agar potongan rambut tidak mengotori baju sehingga menyebabkan gatal di badan.
Cara membuatnya sederhana, cukup dengan selembar koran utuh yang terlipat, kami buat pola setengah lingkaran dengan diameter masing-masing lebar bahu kami, tepat di tengah lipatan koran. Setelah itu, kami potong setengah lingkaran tersebut, lantas kami pakai. Nah, diameter lingkaran yang selebar bahu memungkinkan koran tersebut sukses melewati kepala kami, tapi Ups, terlalu lebar sehingga tidak menutupi leher. Nah, kami menggunakan clipper untuk memperkecil lingkaran. Cukup cerdas bukan?!
Acara potong rambut berlangsung sesuai urutan kelahiran, dari yang paling kecil. Kakak-kakak yang lebih besar bertanggung jawab untuk membantu adik-adiknya untuk membuat ‘baju potong rambut’, memastikan dia cukup tenang agar gunting tidak salah potong daun telinga (ini pernah terjadi, rasanya,... iuuuuuh sakit banget T.T), lantas membersihkan sisa-sisa rambut hasil potong rambut.
Setelah itu banyak sampah? Tentu saja, koran dan potongan rambut bertebaran dimana-mana. So,... saatnya bersih-bersih rumah bersama! Dengan rambut baru, semangat baru, senyum baru,...

 Lain minggu, acara kami adalah jemur kasur bersama.
Diawali dengan ritual yang sama, sarapan dan mandi pagi lebih awal, kami bergegas mencopot seprei dari masing-masing ranjang. Masing-masing mendapat bagian kok, bahkan dengan jumlah anak yang ‘sebanyak kami’. Hitunglah, dahulu kami punya 9, iyah, sembilan kasur, yang berarti minimal terdiri atas 9 seprei, 9 sarung bantal, serta 9 sarung guling! Mesi pada kenyataannya, kami punya bantal dan guling untuk masing-masing anggota keluarga kami. Eh nambah sepaket kasur di kamar belakang, untuk yang bantu-bantu rumah :D
Beberapa dari kami yang lebih tua menyiapkan kertas koran untuk alas menjemur kasur. Ada beberapa spot yang kami miliki, mulai dari atap garasi yang bisa diakses dari loteng, serambi lantai atas yang memang area jemur-jemur, serambi depan yang cukup besar dan halaman samping yang sangat lebar (sekitar 10x25 meter) Lantas kami beramai-ramai mengangkut kasur-kasur itu ke titik jemur. Dan bersiap menyasar kasur teritorial masing-masing!
Nah, ini adalah bagian paling penting, karena kami akan berlomba, kasur siapa yang paling mengembang! Dan nantinya akan kami puk-puk pake pukul kasur (ini semacam memukul kasur dengan semacam alat pukul dari rotan, untuk mengeluarkan debu yang terperangkap di kasur, sehingga pengembangan kasur yang kedua tidak mengandung debu).
Demikian ritual jemur kasur kami yang berujung pada bobok siang bareng dengan kasur yang habis dijemur, lengkap dengan seprei baru yang harum! Sebuah acara keluarga yang sederhana, tapi sangat menyenangkan!

Mungkin kalian bisa menirunya di rumah masing-masing, agar pekerjaan rumah tidak terlalu membebani si Mbak, atau bahkan Orang tua kita :)

Rabu, 23 Januari 2013

Jatuh Cinta (?)

Pernahkah kau cinta, benar-benar cinta, jatuh cinta setengah mati, kau cari tau semua tentangnya, kau meyakinkan dirimu sendiri untuk bertahan mencintainya, karena mencintai, adalah tentang melengkapi. Tapi lantas kau jatuh, jatuh dengan sebenarnya katuh, demi cinta yang ternyata semu belaka. kau bukan siapa-siapa, kau bahkan bukan apa-apa! pernahkah kau begitu hidup, sangat hidup, mati berungkali tak akan sanggup menghentikanmu, karena hidup membangkitkanmu lagi, dan lagi. karena satu spirit, sebuah hangat yang menyertai kebersamaanmu dengannya. Tapi lantas kau mati, dengan mati yang sebenar-benarnya. kau tak penting untuknya, benar-tak penting. hingga ketiadaanmu pun bukan sesuatu baginya. kurasan air mata pecah, mungkin seperti cinta bertepuk sebelah tangan,atau bahkan, pungguk merindukan bulan. Ah, cinta yang sia-sia, cinta yang bukan apa-apa, cinta yang tak lebih dari euforia palsu...

Selasa, 26 Januari 2010

pencarian

Aku berlari,...
berlari menembus batas
aku berputar,
berputar berkeliling,
mencari...

tapi tak jua kutemukan
dan aku terus berlari,
menyusur setiap langkah,
menyisir setiap jejak
mencari...

tapi tak jua kutemukan

Q bertanya,
bertanya-tanya pada semesta
dimana tempat bisa kutemukan
dimana tempat bisa kutaruh
semua beban di kepala

dan Q terus mencari
dimana pundak bisa kubersamdar,
dimana hati bisa berbagi
dimana saat bibir bisa tersenyum

dan Q terus mencari,
berlari...
berkeliling,
berputar...
menyusur setiap langkah,
menyisir setiap jejak,...
mencari...

tapi tak jua kutemukan

lalu kutersadar...
betapa banyak yang terlwat
betapa asa yang patah sebelum tumbuh
betapa aku berlari hingga tak sempat kembali,...

lalu kutersadar...

sesungguhnya diri ini,
tak benar-benar mencari

Kamis, 21 Januari 2010

The Using of language in Indonesia

The language, as written in the Constitution of 1945, is one of the National identities. Also, the seminar of the national linguistic policy, 25- February 28, 1975 in Jakarta, reinforced this identity that in his capacity as the national language, the Indonesian’s language has some function as (1) symbol of national pride, (2) a symbol of national identity, (3) a unifying forces of the various communities which has different social origins, language and culture, and (4) a tools to connect intercultural and interregional (Center of the Language development, 1975:5).
Mansour Pateda in his book " Bahasa Indonesia Sebagai Identitas dan Penyatu Bangsa Menghadapi Pengubah Sosial ' ' said that: The figure who asserted that he is Indonesian, as a state or as a nation, is necessary has form of two realities, the Indonesian’s language as a identity of phonic, the flag of red and white, and Pancasila Garuda as a physical manifestation.
Therefore, the existence of the language cannot be ignored. But, in along with Indonesian’s age, language apparently has no longer a high bargaining value. The using of Indonesian’s language which is good and correct declines by the foreign language such as English which spreads in this country. The Median value of Indonesian’ subject at Ujian Nasional which is not better than the other subjects is the proof that the school do not affect their competences of Indonesian’s language. Unfortunately, certain people is prouder to use the foreign language that Indonesian’s language
Therefore, the minister of Education, Bambang Sudibyo in “Kongres Bahasa Indonesia Internasional” at Jakarta, October 28,2008, The development of Indonesian Language was seen in the rapid addition of words and terms in the Indonesian language. However, in the other side, there have been changes in public attitudes toward the Indonesian language. "Sense of pride in the Indonesian language which has put this language as a symbol of Indonesian national identity has been declining “he said.
This certain people’s attitudes, said the minister, can be seen from how they use language in public spaces in major cities in Indonesia. Moreover, certain people use foreign language or regional language which is not in the right place. Some publications, continued the minister took a part too.
The minister underlined, there are many book, films, or shop which using a foreign language for their title’s. In fact, said the minister, the contents are in Indonesian. ''However, I should point out here that nation building through identity politics does not mean we are against the other nation’s identity, "he said.
An observer of the language, Sawali Tuhusetya, which is famous in the virtual world with his writings, reveals some decay of Indonesian.
Firstly, the contamination is carried out by the media, written press and electronics. Undeniable, the media have the capacity to changing suggestion and persuasion which is so strong towards the public. In fact, now there are many people are addicted to information which has been presented by the media. It’s not incredible that the language of the media can influence the term of the public language.
The recurrence of particular language unit in a media often regarded as the right form, so that the public imitating it. The simplest example, the word " dimassa" (= to be beat), as in the sentence: " Pencopet yang tertangkap itu dimassa beramai-ramai oleh penduduk kampung ". In the Structure of Indonesian language, the prefix (not the preposition), the particle " di" who attached to noun (the substantive) which form the verb (verba) is almost never found. We never knows the verba ‘dirumah’, ‘dibatu’, ‘dibola’, etc. It’s same with the using of the signs of plural word " para" who should not be used in front of the plural substantive, like “para politisi” or “para kritikus” or “para politikus” or “para kritikus”.
It is not only in the formation of the words, the logical errors are still frequently showed in the using of language in the media. A TV host, for example, it seldom used the word: “Kepada Bapak…. waktu dan tempat kami persilakan…” who should be more effective and in sense if changed into “Bapak…. kami persilakan untuk menyampaikan sambutan”. They invited the person to speak, not speak to the time nor the place, didn’t they?
Secondly, the decomposition is carried out by the elite in the various layers and lines which should become a social fad in the language. In the culture of our company which has tendency of paternalist, the elite person, recognized or not, became the “Mecque" in the public language. We still remember when Suharto speaks with his own style, which change of the pronunciation /a/ with /ə/; So his followers imitate as a homage and at the same time "an obedience" in the form of expression. Pity, this pronunciation was imitated in RT/RW, so the citizens consider that this pronunciation is correct. In short, there are controversies between the standards of the language expressed by the Center of Language and the reality on the public.
Thirdly, the decay are made by the invasions of Indo-English’s word, intentionally or not, by our civil “Contemporary’s” servant. In the middle of Globalization, when the world had become a planetary village, the mixed code between the Indonesian’s languages and foreign are impossible to resisted. In fact, this mix-code will be enriching the forms of language and vocabulary of our language. However, it would be naive if the rule to translate of this mix-code is no longer heeding the speech-context. We are no more paying a heed to whom and in which situations we speak that often involve misunderstandings.
These circumstances exacerbated by the absence of formal rules by the government about the using of foreign languages in our life. The world’s development also contributed to bringing in some of foreign term which finally included in Indonesian’s language without coherent process absorption.
Consequently, the minister said, the most currently urgent is to provide a new vocabulary, especially related to the development of science and technology (science). According to minister, thus, the development of science and the technology which is fast can be applied in Indonesia. “Our job is to oversee that the process of adding the foreign elements to Indonesian vocabulary follow our linguistic rules which were made, so that Indonesian grow steadily and has its own logical system that is consistent from time to time, " , he says.
One of country which has a good escort language is French. This country formed the ‘Academie Français’ which has an authority to determine the absorption for each foreign word which entered in French, also, another language rules also regulated by these agencies. Even in Japan, foreign terms converted first in the local language before thrown into audience. Therefore, there is the term of terebita (television), whereas, Academie Français ever use the word “homme de la promenade’’ to replace the word “Walkman”. Although finally the public prefer to use the word “Walkman”, it is clear that the government is concerned with existence of their language.
While in Indonesia, heeding of inconsistent absorption elements of foreign terms into Indonesian, much of foreign terms, even this is not a patent such as Walkman ® and Bluetooth ®, which entered and, eventually be regarded as a part of the Indonesian language. We ever knew Balai Bahasa Indonesia, which introduced the term `unggah', `unduh', ‘infra merah', ‘peranti lunak', `komputer jinjing' to replace `upload', `download', `infrared', `software', `Laptop’ and so on. Our great media as Kompas had constantly use some words above. But as long as the time goes on, these words were sinker and sinker and finally became memories