Kepala ini terasa seperti pasar. Begitu ramai dengan banyak penggalan kata, tapi bukan tentang sayuran, buah, perbumbuan, daging selayaknya pasar biasanya.
Mulutku ingin berteriak, menyudahi transaksi dan tawar menawar nilai. Tentang kepatuhan yang harus mutlak, tapi tak diiringi rasa aman. Tentang menjadi sempurna tanpa ruang untuk belajar. Tentang menjadi contoh tanpa celah untuk salah.
Tapi tubuhku lemah. Terlalu lelah untuk sekadar menopang badanku sendiri. Lama-lama aku terbiasa dengan suara riuh itu. Dalam diamku, ada air mata yang perlahan mengalir menderas. Tanpa kutahu bagaimana cara menghentikannya.
Rasa marah menyelimutiku, mendorong sisa-sisa energi ke tangan dan kakiku.
Yang kutahu, kucingku telah lari tunggang langgang ke pojokan kolong tempat tidur bagian terdalam, tergelap. Kamarku berantakan, semua benda bertebaran, isi lemari berhamburan.
Aku terhenyak. Aku mencoba merayap ke bawah kolong. Tapi kucingku gemetaran. Seolah takut pada monster yang begitu menakutkan. Aku mendekatkan tanganku padanya. Dia separuh mengeong. Ada rasa takut yang kudengar dari suaranya. Lalu kusadari: toples kue yang tadinya ada di nakas telah terguling di sampingnya. Toples itu seolah berkata: aku menghantam kucingmu, lewat tanganmu yang berubah menjadi tangan besi.
Tangisku pecah lagi. Aku telah menyakiti satu-satunya makhluk yang setia menemaniku sepanjang malam. Berbaring tenang di kakiku sebagai bantalnya. Aku mundur perlahan. Aku tak lagi berhak mendekatinya.
Aku terduduk di pinggiran kasur. Menangis dalam jenis perih aneh yang baru kurasakan pertama kali.
Lalu ada bulu halus mendekat, duduk di kakiku. Tanganku mencoba mendekat, Ia terjaga sejenak tapi tidak beranjak. Aku mengelusnya. Namanya Emon.
Aku bisa merasakan ketegangan tubuhnya saat aku memeluknya. Tapi Ia bertahan. Malam itu, jadi malam terpanjang yang menjadi awal kesadaranku: aku tidak baik-baik saja.
Mengenang Emon, November 2020 - Agustus 2025.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar