Jumat, 01 Januari 2010

“Revolusi Moral; Berangkat dari Nurani, Agar tak jadi KHAYALAN BELAKA; dan MEWUJUDKANNYA SEKARANG”

There is many religions, but there is only one morality”

JOHN RUSKIN

(Lectures on Art Lect.ii, sec.37)

John Ruskin tidak sedang mengigau ketika berujar seperti itu, meskipun yeah, hitungan jumlah agama yang banyak, muncul seiring perkembangan jaman, Lha, emang, jaman dulu ada berapa agama?Ko biso dya ngecek kayak gTu?!

Wait, itu bukan bahasan kita kali ini, mari kita kembali ke Topik,

Oke, apa sih moral itu?

Jangan2, kita ikut teriak2, tp gak ngarti, apo lah moral kie?

Duh, gak banget deh,

Hm, menurut hemat saya (iyalah, masak boros...-_-“), Moral merujuk pada suatu tatanan, nilai, yang disepakati oleh manusia, untuk menjunjung harkat dan martabat manusia itu sendiri, yang membedakan manusia dengan makhluk Tuhan yg lain, hewan.

Mengapa ‘merujuk’?

Sebab secara secara harafiah, berdasarkan ilmu linguistic, khususnya ilmu semantic (duh, ap iTu ya...-_-“), moral bukan suatu objek fisik, moral adalah suatu kumpulan konsep yang membentuk suatu kesatuan makna. Sama seperti ‘kursi’.’kursi’ bukan benda, tp konsep, yaitu ‘benda’, yg’dibuat secara khusus oleh manusia’, untuk digunakan ‘duduk’, konsep inilah yg mBedakan ‘kursi’ dengan ‘tanah’, dimana mereka b’2 sm2 digunakan untuk ‘duduk’, dan merupakan ‘benda’, tapi ‘tanah’, bukan ‘dibuat oleh manusia secara khusus’ untuk ‘duduk’.

Dalam kasus ‘moral’, saya mengatakan sebagai “tatanan, nilai, yang disepakati oleh manusia” sebab, pada dasarnya, moral merujuk pada perlakuan yang ingin didapatkan seseorang dari orang lain;

Anda tak suka dibohongi, maka Anda tidak berbohong,

Anda tak suka diintimidasi, maka Anda tidak mengintimidasi,

Anda ingin dicintai, maka Anda mencintai,

Dan keinginan-keinginan yg lain.

Nah, mengapa “untuk menjunjung harkat dan martabat manusia itu sendiri”?

Sebab pada akhirnya, semua keinginan itu muncul dari perasaan ‘ingin dihargai’, ‘ingin diakui’. Pernah anda berharap dijajah oleh org lain hanya karena anda ‘bukan siapa2’? Saya rasa tidak, se’bukan siapa2’-nya anda, anda pasti ingin dihargai, dihargai itu, berbentuk banyak hal, dicintai misalnya, mendapat kejujuran, misalnya,...

Untuk statement terakhir, saya rasa tak perlu dijelaskan panjang lebar, saya toh percaya, Anda pun belum pernah bertemu dengan hewan bermoral, hewan yg tidak mengawini anaknya sendiri, atau yang tidak saling berebut makan dengan saudaranya,hewan yang ngantri minum, dll. Nah, kLo anda bertemu dengan salah satu dari mereka, mgkn Qta bs belajar dr mrk,hehe...

Oscar Wilde, dalam bukunya ‘An Ideal Husband’, Act ii, secara gamblang berrkata bahwa “Morality is simply the attitude we adopt towards people we personally dislike“

Jd, bisa dikatakan, moral adalah suatu sikap kita, menghadapi sesuatu yg tidak kita suka. Apa pun itu.

Nah, dalam ESG, Ary Ginanjar menyebutnya ‘Anggukan Universal’, dimana satu dari beberapa contoh yg ad adalah scene; “Di dalam suatu perjalanan, anda melihat seorang pemuda sedang berusaha menjambret tas seorang wanita tua, perasaan apa yg muncul saat itu?” Saya hmpr yakin 100% bhw, anda tak sempat memikirkan suku apa wanita tersebut, apa agamanya, statusnya, apa keuntungan bg anda jk anda menolongnya, dsb. Yg ada adalah perasaan ;ingin menolong’. Jika dirunut lagi, maka yg muncul adalah “apabila, Anda berada di posisi wanita tua tersebut, pasti Anda ingin ‘ditolong’”... Senada dengan Oscar Wilde, Jika berada dalam situasi tersebut, tentu anda tak ingin ‘tak dipedulikan siapapun dan tak ada yang menolong anda’ bukan?

Selanjutnya, kita beralih pada kata “Revolusi”,

Yapz, revolusi bisa berarti ‘a great change in conditions, ways of working, beliefs, etc, that affects large number of people’ à ini menurut eyang Oxford lho,...

So, sebuah revolusi, harus bisa mempengaruhi / mengajak sebangak mungkin orang untuk bersama-sama mengubah kondisi, pola pikir, kepercayaan, dsb menuju titik tertentu, dalam hal ini perbaikan moral.

Maka yang perlu kita lakukan, tidak hanya sekedar membuat orang lain berkata : “Oh, revolusi Moral tu seperti ini,…” atau; “Revolusi Moral?! Bagus itu, like this deh…!”, atau mungkin; “Iya sih, sudah saatnya kita melakukan Revolusi moral…” tapi kemudian hanya menjadi ujaran biasa, tanpa diikuti tindak lanjut.

Yang perlu kita lakukan adalah membuat orang lain berpikir, “Saya bisa seperti mereka, bahkan lebih baik!”

Nah, pertanyaanya adalah, bagaimana membuat orang lain ikut serta, aktif dalam gerakan perbaikan moral (Hm, pd akhirnya, saya lebih suka menggunakan kata ini) ini. Secara natural, manusia itu selalu menuntut, menginginkan lebih dari sekedar kata2, butuh pembuktian. Maka, saya pribadi lebih suka mengajak orang lain, dengan pengapliasn sehari-hari. Bagaiman mungkin kita meminta orang lain untuk jujur, sedang kita sering berdusta? Bagaimana mungkin kita meminta orang lain untuk bersikap santun, sedang kita tak melakukannya… Saya yakin setiap dari anda memiliki asumsi sendiri2 tentang metode terbaik menjaring pendukung , tapi ingat, bukan hanya sekedar pendukung, tapi ikut serta aktif.

Nah, pada topic kita kali ini, Revolusi Moral, kita perlu tahu pasti, Moral yang manakah? Okelah, kita semua ingin kaya, ingin sukses, berhasil. Sama seperti para pejabat kita di atas sonoh, mereka pun ingin kaya, ingin sukses, ingin berhasil. Namun, ada satu poin penting yg luput dari bahasan. Kita ingin kaya, kaya yg seperti apa?, kaya yang menjatuhkan orang lain? Sukses yang memonopoli pasar? Mari kita balik pola berpikir kita,

Senangkah anda, jika anda dipiting oleh kawan anda sendiri, dalam usahanya menjadi kaya? Atau suka kah anda, jika anda kehilangan usaha karena pasar dikuasai orang lain?

Jawabannya tentu tidak. Nah, dari konflik di atas, muncullah teori Win-Win Solution. Dimana tidak ada yg dirugikan, ketika yang lain menang.

Nah, untuk mencapai kualitas Moral yang bagus, memang dibutuhkan dukungan berbagai pihak, pemerintahan yang bersih, WN yang taat, Hukum yang adil, dsb... Memang, bukan tidak mungkin untuk merealisasikan semua itu - pemerintahan yang bersih, WN yang taat, Hukum yang adil - secepatnya, hanya saja, saat ini kita belum berkemampuan untuk membuat perubahan fundamental dalam tatanan social masyarakat luas. Saat ini, kita memang belum mampu mengubah UU yang menurut Qta kurang, atau tidak pro-rakyat, tapi bukan berarti kita tak bisa berbuat apa pun. Qta bisa memulainya dari hal kecil, dari diri kita sendiri. Berusaha jadi manusia bermoral, untuk meng-influence- yang lain, menunjukkan masih ada manusia berhati nurani. Yang demikian itu menurut saya lebih efektif daripada sekedar ikut berteriak: “Gantung para Koruptor”, “Hukum Mati para Pencuri Harta Bangsa”, “hapus UU xxx,” “Hukum Mati teroris”, dsb (Intinya sih kita tidak senang, hak kita ‘dirampas’ orang tak bertanggung jawab)

Yah, sekali lagi, menuntut, menggugat, menghujat, sumpah serapah, dan teman2nya, tidak menyelesaikan masalah, justru semua itu hanya memperkeruh suasana, menantang ego masing2. Maka, tak perlulah kita menunjuk orang lain, cukup diri kita terlebih dahulu. Ingat, setiap telunjuk kita menunjuk pada orang lain, tiga jari lain mengarah pada kita sendiri.mari kita lakukan SEKARANG, DARI DIRI KITA SENDIRI, okey?!

Nah, terakhir, mengulang pernyataan sebelumnya, saya ingin mengutip kata-kata John Locke, dalam “Essay on Human Understanding”, “New opinions are always suspected, and usually opposed, without any other reason but because they are not already common”

Tapi, bukan berarti gak mungkin kan?!

Sukses dengan Alfabet (part 2)

Nah, setelah lama off,
Akhirnya saya kembali menulis beberapa tips, berikut lanjutan dari sukses dengan alfabet part1, mgkn sebagian sudah tahu, tapi, alangkah baiknya jika kembali saling mengingatkan.
Okey, masih dalam semangat taun baru, saatnya JADI LEBIH BAIK
 
N : Never. 
      Jangan terlibat skandal seks, obat terlarang, dan alkohol. Bisa dibilang, semua kemaksiatan dimulai dari hal-hal diatas, terutama alkohol, kita tidak akan sadar apa yang kita lakukan saat mabuk, bisa aja kan kita berbuat asusila, atau bahkan bunuh orang?! 
O : Observe. 
      Amatilah segala hal di sekeliling anda. Perhatikan, dengarkan, dan belajar dari orang lain. Sebab dengan begitu, anda akan selangkah lebih maju dari teman-teman anda, minimal, anda tidak melakukan kesalahan yang dilakukan oleh teman anda.
P : Patience. 
      Sabar adalah kekuatan tak ternilai yang membuat anda terus berusaha. Dan anda akan terkagum-kagum ketika Anda berefleksi diri, betapa sabarnya Anda...!
Q : Question. 
      Pertanyaan perlu untuk mencari jawaban yang benar dan menambah ilmu. Tepat seperti pepatah ”Malu bertanya sesat di jalan”, bertanyalah ketika memang perlu bertanya!
R : Respect. 
      Hargai diri sendiri dan juga orang lain. Dengan begitu kita belajar berproses, jangan berharap orang lain menghargai anda ketika anda tak bisa berbuat serupa.
S : Self confidence, self esteem, self respect. 
      Percaya diri, harga diri, citra diri, penghormatan diri membebaskan kita dari saat-saat tegang. Penting, amat penting untuk diingat bahwa bagaimana cara kita memandang diri sendiri itu mempengaruhi cara orang lain memandang diri kita. Sangat konyol ketika berharap orang lain respect pada diri kita, sedang kita sendiri tidak respect pada diri kita sendiri, what a silly guys,...
T : Take. 
      Bertanggung jawab pada setiap tindakan anda berarti mengapresiasi kepercayaan orang lain yang diberikan pada kita. Dan lihatlah bagaimana Anda menjadi lebih baik, lebih baik, jauh, jauh, dan jauh lebih baik!
U : Understand. 
      Pahami bahwa hidup itu naik turun, namun tak ada yang dapat mengalahkan anda. Dengan begitu, anda tak akan kehilangan semangat, keep spirit!
V : Value. 
      Nilai diri sendiri dan orang lain, berusahalah melakukan yang terbaik. Biarlah anjing menggonggong, kafilah berlalu!
W : Work. 
      Bekerja dengan giat, pantang menyerah, jangan lupa berdo'a. Perca, bahwa segala sesuatu sudah dirancang oleh yang diatas untuk yang terbaik bagi kita!
X : X'tra. 
      Usaha lebih keras membawa keberhasilan. Ingat, No pain, No gain, semakin keras anda berusaha, semakin besar kemungkinan berhasil! 
Y : You Can
      Anda adalah anda, insan spesial yang diciptakan Tuhan untuk memberi warna dalam kehidupan. Maka, lakukan yang terbaik, percayalah bahwa Anda dapat membuat suatu yang berbeda.
Z : Zero. 
      Wah, ini sih sudah pasti, Usaha nol membawa hasil nol pula. Jadi, jangan malas, semangat, semangat!

Sukses dengan Alfabet (part 1)

Menurut pakarnya, manusia sukses tidak cuma dari IQ saja. Peran EQ (Emotional Intelligence) pada kesuksesan bahkan melebihi porsi IQ. Seorang pakar EQ bernama Patricia Patton memberikan tips bagaimana kita menemukan dan memupuk harga diri, yang disebutnya alfabet keberhasilan pribadi. 
 
A : Accept. 
Terimalah diri kita sebagaimana adanya. Temukan kekurangan kita, akui, dan perbaikilah, tak perlu repot-repot mencari kesalahan orang lain. 
 
B : Believe. 
Percayalah terhadap kemampuan kita untuk meraih apa yang kita inginkan dalam hidup. Ketika kita tidak lagi memiliki kepercayaan, maka otak kita akan sulit untuk berpikir. Percayalah, bahwa kita bisa, kita mampu, dan kita akan berhasil.
C : Care. 
Pedulilah pada kemampuan kita meraih apa yang kita inginkan dalam hidup.
Inilah cara terbaik menemukan potensi diri kita. Tak hanya ditemukan, tapi kembangkanlah. Kelak pasti akan berguna.
D : Direct. 
Arahkan pikiran pada hal-hal positif yang meningkatkan kepercayaan diri, dan tak perlu membuang waktu untuk memikirkan hal-hal yang bukan tanggung jawab kita.
E : Earn. 
Terimalah penghargaan yang diberi orang lain dengan tetap berusaha menjadi yang terbaik. Jangan terlalu lama ’melambung’ tinggi hati hanya akan menjungkalkan kita di kemudian hari.
F : Face. 
Hadapi masalah dengan benar dan yakin. Karena ketika ’benar’ dan ’yakin’ bertaut, kesuksesan ada dalam genggaman kita!
G : Go. 
Selalu, dan selalu berangkatlah dari kebenaran. Kebenaran akan mengantarkan kita pada keberhasilan.
H : Homework. 
Jangan remehkan pekerjaan rumah. Karena, pekerjaan rumah adalah langkah penting untuk pengumpulan informasi. Dan kita akan menemukan banyak sekali contoh, yang dapat membantu kita untuk tidak melakukan kesalahan berulang.
I  : Ignore. 
Abaikan celaan! Orang yang mencela hanya akan menghalangi jalan kita mencapai tujuan.
J : Jealously. 
Setiap orang memilki kelebihan dan kekurangan. Rasa iri dapat membuat kita tidak menghargai kelebihan kita sendiri. Jadi, akan lebih baik jika kita fokus pada diri kita sendiri.
K : Keep. 
Terus berusaha walaupun beberapa kali gagal. 100 kegagalan akan mendekatkan kita pada keberhasilan. Ingat, kegagalan adalah pintu keberhasilan, dan tak ada kata ’berhasil’ tanpa kata ’gagal’.
L : Learn. 
Belajar untuk sabar, belajar untuk peduli, dan belajar untuk ’belajar’. Belajar dari kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulanginya. 
M : Mind. 
Perhatikan urusan sendiri dan tidak menyebar gosip tentang orang lain. Selain hanya membuang energi untuk sebuah perbuatan yang sia-sia, kita hanya akan terus disibukkan dengan berbagai pikiran negatif lain yang akan meracuni mind-set otak kita.

(edisi depan akan BIAS tampilkan alphabet sukses selanjutnya, semoga sukses!)[atina]

Minggu, 20 Desember 2009

d'Missing Diksar

well,,,
kembali lg,

sete;ah 2 tahun tertunda,
akhirnya bisa ikut diksarpram...
hohou...
hm

lg g mood crita niy

tunggu kisah selanjutnya!!!

Minggu, 06 Desember 2009

No Goro, No Bantuan!


Minggu pagi, 29 November 2009, saya ‘terusik’ dengan tulisan Priyantono Oemar di harian ini mengenai kebersamaan yang kembali terbangun dalam bencana. Maka saya pun terkenang masa-masa saat saya dan ke-39 kawan lain berada di Nagari Gadur, kec. Enam Lingkung, masih di Kabupaten Padang Pariaman. Di sana, kendala yang ditemui kurang lebih sama, dimana warga kurang responsif untuk aktif dalam kegiatan recovery pasca bencana. Bahkan, seorang anggota TAGANA DIY yang berada di sana bersama dengan tim dari pemprov DIY, yang notabene telah berpengalaman dalam menangani pemulihan pasca-bencana di tempat lain pun sempat mengeluh. « Gimana gak sakit ati, kita capek-capek ngrubuhin rumah, Eh, yang punya malah ngopi di lapau (warung kopi-red). Yang punya itu ! ». Dan tak hanya sang pemilik rumah, masalah yang umum ditemui adalah sulitnya memancing pemuda setempat untuk ikut berpartisipasi. Belum lagi ‘ketidak-pedulian’ satu warga terhadap warga yang lain, mereka lebih memilih membantu kerabat mereka yang berada di seberang nagari atau lebih ketimbang bekerjasama dengan tetangga untuk segera membersihkan puing-puing rumah dan membangun shelter / rumah tinggal sementara, setidaknya, itu yang tertangkap dalam catatan posko DERU UGM.

Ke-40 mahasiswa UGM ini berangkat ke Sumatera Barat sebagai relawan DERU (Disaster Early Response Unit), konversi dari Kuliah Kerja Nyata Program Pemberdayaan Masyarakat Peduli Bencana (KKN-PPM PB) sekaligus bentuk aksi tanggap bencana Universitas Gadjah Mada. Disana tim mendirikan posko DERU tahap 1 di Nagari Gadur selama 1 bulan. Tiba di Posko Induk di Korong Kampung Dalam pada dinihari tanggal 12 Oktober 2009 , tim mendapati keadaan yang secara umum jauh lebih baik dari ekspektasi awal. Pada ekspektasi awal, kami mengira akan diperbantukan mengevakuasi mayat, menyalurkan bantuan logistik versi tanggap darurat seperti tenda, selimut, terpal, sekaligus mendirikannya, dan lain sebagainya. Tapi ternyata, keadaan jauh lebih baik dari semua itu. Status Provinsi Sumatera Barat sebagai daerah percontohan tanggap Tsunami membuat sebagian besar warga tahu apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi. Maka, korban jiwa sangat sedikit bahkan nyaris nihil. Di Nagari Gadur, tercatat hanya ada 2 korban jiwa. Keberadaan Nagari gadur yang tak terlalu jauh dari jalan lintas kabupaten memungkinkan masuknya bantuan logistik dengan segera. Secara umum, proses recovery tahap evakuasi telah selesai, dan sedang dalam proses menuju proses rekonstruksi. Sebagian besar warga telah mendapat tenda, selimut, makanan kaleng, mie instan, kecuali korong Kapuh (dibaca : Kapuah- red) Maka kami sempat kelimpungan, ketika menyadari logistik yang kami bawa masih berupa logistik tahap evakuasi. Akhirnya, sebagian logistik itu ‘dilempar’ ke Nagari seberang, yang memang sangat membutuhkan bantuan tahap evakuasi.

Setelah bersosialisasi dengan warga sekitar, mengikuti saran dari Urang minang untuk melakukan pendekatan ke empat sektor, lapau (warung kopi, tempat kumpul bapak-bapak-red), kapau (tempat kumpul pemuda-red), surau (tempat kumpul para datuk-red), dan sungai (tempat kumpul ibu-ibu-red). Pagi itu juga, Tim DERU bersosialisasi sekaligus mengadakan audiensi dengan masyarakat setempat. Dari hasil sosialisasi, tim sepakat dibagi menjadi 2, untuk menyelenggarakan 2 dari 7 bidang program yan telah disiapkan oleh tim survey UGM. Kedua bidang itu adalah program psiko-sosial dan program rekonstruksi, setelah sebelumnya melaksanakan program administrasi publik berupa pendataan kerusakan rumah serta infrastruktur publik. Dalam rangka rehabilitasi infrastruktur publik, tim DERU UGM bekerjasama dengan posko pemprov DIY untuk memperbaiki tanggul yang hancur. Dari kerjasama inilah, pengalaman-pengalaman ‘tidak mengenakkan’ khususnya di bidang rekonstruksi, meluncur dari relawan DIY. Salah satunya seperti yang disebutkan diatas.

Di sisi lain, kendala yang sedikit lebih kompleks terjadi di Korong Kapuh, korong terjauh dari posko. Di sana, terjadi gap yang dipicu oleh pengelompokan suku yang mengacaukan distribusi tanggung jawab. Keadaan ini membuat warga enggan membantu warga lain yang berbeda suku. Belum lagi adanya kecemburuan sosial pada suku tertentu yang dianggap lebih ‘dekat’ dengan bantuan. Latar belakang kesukuan bisa serta merta jadi topik panas jika salah teknis dalam pembagian bantuan. Kendala ini membuat proses rekonstruksi stuck. Awalnya kami berniat ‘memberi contoh’ dengan turun langsung dalam proses Build and destroy. Lama kelamaan kami menjadi gerah melihat sikap acuh warga setempat. Puncaknya, salah seorang rekan mahasiswa mengganti akronim KKN yang semula Kuliah Kerja Nyata menjadi Kerja Kuli Nyata, yang lain menyebut Kerja Keras Nguli . Tenaga dan keahlian kami yang terbatas memaksa kami memutar otak untuk memberdayakan masyarakat setempat, sesuai tujuan program kami. Kami hanya mau membantu warga yang mau ikut serta dalam kegiatan. Teknik itu kami ambil dari hasil adaptasi proses pemulihan pasca bencana di Bantul, di mana masyarakat bekerja sama merobohkan dan membangun kembali rumah yang hancur akibat gempa secara bergiliran.

Metode ini cukup berhasil di awal kedatangan kami. Hingga tiba-tiba, tak sampai dari 1 Minggu sejak kedatangan kami, sebuah harian lokal menurunkan headline “No BRR, No Jogja”. Inti dari artikel itu adalah masyarakat Sumatera Barat menolak sistem recovery yang dibuat pemerintah untuk proses pemulihan pasca Tsunami di Aceh, maupun penyempurnaannya di Jogja pada Gempa Bantul untuk diterapkan di Sumatera Barat. Berita itu membuat kami jadi lebih berhati-hati, mengingat konon urang Minang tak suka diajari, maka tim berusaha berusaha untuk tidak menggurui. Dan solusi pun datang, Pemkab Sleman datang memberi bantuan seperangkat alat-alat tukang beserta bahan bangunan untuk membangun Rumah Tinggal Sementara Semi Permanen (RTS SP), lengkap dengan panduan membuat rumah tahan gempa. Dari situ, kami langsung mensosialisasikan bantuan itu, kami mengadakan sosialisasi rumah tahan gempa, dan menyalurkan bantuan dari Pemkab Sleman dengan syarat, warga yang akan menerima bantuan bahan bangunan harus sudah membangun rangka rumah, dan alat-alat tukang di bagi per 5 rumah yang berdekatan, dan harus digunakan bergiliran, dengan tenggat waktu tertentu. Jika tenggat waktu tidak terpenuhi, alat akan ditarik kembali untuk di-rolling ke kelompok lain. Teknik ini berjalan cukup sukses, karena secara tidak langsung kami ‘memaksa’ warga untuk pro aktif membangun rumah tinggal sementaranya, dan ‘memaksa’ warga untuk saling bekerja sama.

Hasilnya, dalam jangka waktu 1 bulan, dengan tenaga terbatas, Posko DERU berhasil mendirikan 64 unit shelter dengan konsep RTS SP (60 unit hasil kerja sama dengan Pemkab Sleman, 4 unit Shelter Mandiri).

Dampak Psikologis

Bencana Alam berupa Gempa berkekuatan 7,8 SR yang mengguncang Sumatera Barat dan sekitarnya pada 30 September 2009 lalu merupakan suatu peristiwa sosial yang berpotensi menimbulkan korban jiwa maupun harta benda disamping trauma dan depresi pada Individu dan Massal. Keadaan ini harus segera diatasi agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat berlangsung lebih cepat. Sebab, gempa bumi merupakan suatu peristiwa traumatis bagi korban yang mengalaminya, khususnya anak-anak. Pengalaman bencana secara langsung telah menempatkan anak-anak dalam situasi ketidakberdayaan dan ketakutan yang mendalam. Dalam situasi tersebut anak-anak juga rentan mengalami Post-traumatic stress disorder (PTSD) dan gangguan kecemasan.

Selain bayang-bayang PTSD, beberapa anak mengalami trauma samar. Sekilas, mereka nampak normal, namun, ketika ditanya mengenai gempa, ada yang langsung terdiam, bahkan ada yang menangis histeris ataupun tak mau lepas dari gendongan sang Ibu, belum lagi semangat belajar anak-anak yang relatif kurang, dan rasa percaya diri yang rendah. Untuk mengatasi trauma pasca gempa, tim relawan DERU menyelenggarakan program trauma healing berupa pendampingan . Anak-anak diajak bermain game-game edukatif yang merangsang kerjasama dan taktik, melatih keberanian serta kesabaran. Daya kreatifitas anak-anak pun diasah sedemikian rupa hingga kepercayaan diri mereka tumbuh kembali. Di sis lain, terlihat adanya kecenderungan budaya punishment di lingkungan masyarakat sekitar. Hal ini turut memperlambat proses recovery psikis anak-anak, dimana perasaan dihargai dapat mempercepat peningkatan kepercayaan diri dan kesadaran untuk menerima segala sesuatu dengan ikhlas. Efeknya, anak-anak menunjukkan respon luar biasa ketika mendapat reward, meskipun hanya berupa pujian.

Untuk meningkatkan minat belajar, tim psiko-soial membuat sistem belajar baru yang kami kemas dalam bimbingan belajar. Salah satu metode yang dibuat adalah berhitung dengan menyanyi. Hasilnya, dalam kurun waktu 2-3 hari, anak-anak mampu menghapal pangkat 3 dari 1-20. Metode lain adalah perkalian dengan jari yang sudah umum di jogja, tapi belum dikenal disana. Dengan metode jarimatika, anak-anak dapat melakukan operasi perkalian dan pembagian di luar kepala dengan mudah.

Di akhir program, tim psiko-sosial juga mengadakan sosialisasi kegempaan dan mitigasi bencana untuk menyikapi isu akan adanya Gempa yang jauh lebih besar setelah gempa 30 september dalam waktu dekat. Isu ini sempat membuat sebagian warga merasa stress. Dengan adanya sosialisasi, isu itu dapat diredakan dan masyarakat menjadi tenang kembali.



[1] Istilah yang biasa dipakai orang minang untuk menyebut Gotong-Royong

blog hilang!!!

blog yang telah kupiara sekian taun,,,
akhirnya hilang
so...
Q buat bru,
n merelakan tulisan2ku yang dulu...
ol,
tetap semangat!