Rabu, 31 Januari 2018

Doa

Matahari telah lama sembunyi saat perjalanan dimulai.

Bahkan bulan, sempat ditelan bayangan bumi dengan begitu sempurna.

A long journey, saat doa-doa mengalir.
Panjang dan deras. Saat kusadar bahwa kesempatan terkabul terbuka lebar.

Lantas imaji berlari ke suatu tempat yang rasanya begitu kukenal. Serta sebuah sosok. Begitu penasaran. Begitu ingin tahu.

Jika kesempatan itu ada, aku ingin sekali memanjatkannya. Tapi apa?

Aku benci menebak.

Terlebih saat setuju adalah jawaban.

Adakah sebenar-benarnya?

Maka akhirnya kuucap;
Kekasih, tetapkan iman untuknya.
Tetapkan yang baik dan yang terbaik untuknya.
Kekasih, mudahkan apa-apa yang Ia usahakan. Kabulkan apa-apa yang Ia pinta.

Progo:
150 menit sejak keberangkatan.

P.S: apa lagi yang harus kupanjat, Kekasih?

Sabtu, 27 Januari 2018

Pulang

“Aku terbang besok, jam sepuluh” bisikku padanya, lewat telepon di genggamanku.
“Kamu, pasti balik ‘kan?” jawabnya.
Dan leherku tercekat.

Di pesawat, begitu kuletakkan pinggulku di kursi, kukirim gambar boarding  passku padanya.
“Aku tunggu kamu kembali”
Kumatikan gawaiku. Kupilih untuk memejamkan mata. Satu setengah jam ditambah tiga jam penerbangan lanjutan bukan waktu tempuh yang pendek. Aku perlu menenangkan jiwa dan pikiranku.


“Aku ingin Ibu yang cerdas untuk anak-anakku nanti. Ibu yang tangguh. Ibu terbaik yang akan menjaga anak-anakku nanti. Perempuan hebat yang seperti itu, ya kamu” matanya menusuk jantungku.
“Stop, jangan teruskan. Kau tahu aku tak bisa. Once I started, I can’t go back”
“Maka mulai lah…”
“Kita pulang yuk” Dan aku pun berdiri. Membayar makanan kami malam itu.
“Hei…” digenggamnya pergelangan tanganku saat kuulurkan tanganku ke kasir.
“Aku bisa membayar makananku sendiri kok, dan tadi sore kamu sudah bayar makan sore kita. Let me pay this time” Dan dia berangsur melepas genggamannya.

Aku terbangun,
Mimpi ternyata membawaku ke malam itu, jumpa terakhirku dengannya. Pilot mengumumkan bahwa pesawat akan segera mendarat. Maka kutegakkan sandaran kursiku.

Jakarta,
Akhirnya kuinjakkan kembali kakiku di sini.
Rasanya sangat lama, padahal baru lebaran kemarin aku mudik. Tapi tidak untuk kali ini. Entah kapan aku akan menapakkan langkah di sini lagi. Terutama untuk terbang ke timur, lagi.
Dua minggu berlalu, aku memilih sekedar menjawab sekadarnya pesan-pesan darinya.
Tapi tak untuk setiap pertanyaannya tentang ‘pulang’.

Hingga pagi itu kubaca status aplikasi perpesannya:
“Before 2017 ends, inbox me something that you’re always wanted to tell me. It’s gonna stay secret between us two. Post this as your status and maybe someone will surprise you”

Klik reply:
I love you, tidak kurang tidak lebih.
Maaf jika mencukupkan diri, sebab aku tak sanggup membiarkanmu jatuh dengan cinta yang sama, tapi tak sanggup menanggung rindu.

Save as draft

Selasa, 02 Januari 2018

Kuis bego-begoan: Seberapa 'bego' kamu?

Hello People,

Gimana liburan kalian, rame gak? Kalau beta rame di timeline saja, sibuk menjawab kuis bego-begoan yang malang melintang di status WA dan belakangan ikut bikin rame story instagram. Buat kalian yang berhasil jawab bener terus, selamat ya! Buat yang harus ngerepost, harap bersabar, ini baru latihan ujian, hhehe. Buat yang belom sempet dapet kuis ini, kayaknya kalian kurang gaul deh, :p

Oke,mari kita kupas kuis tersebut dari yang paling gampang.

Kamu sedang tidur di kamar,kemudian Ibumu datang mengetuk pintu membawakan roti, selai dalam toples dan segelas susu.Mana yang kamu buka duluan?

Kuis ini adalah kuis yang paling banyak direpost oleh penghuni linimasa status WA saya. Lho, berarti banyak yang jawab salah dong? Berarti susah? Eits, tunggu dulu. Memang banyak yang salah, tapi jawaban yang dianggap benar hanya 1. Bisa disimpulkan bahwa pola pengambilan keputusan menuju jawaban yang dianggap benar sejatinya hanya 1 jalur saja.

Kita akan memulai bahasan dari jawaban-jawaban yang dianggap salah terlebih dahulu; mulai dari selai, toples, roti, hingga pintu. Loh terus jawaban yang benar apa?

Dalam dunia psikologi, kemampuan manusia untuk berfikir kompleks, serta kemampuan penalaran dan pemecahan masalah disebut kemampuan kognitif. Ada beberapa teori yang menjelaskan aspek kognitif manusia. Mayers (1996) menjelaskan bahwa kognisi merupakan kemampuan membayangkan dan menggambarkan benda atau peristiwa dalam ingatan dan bertindak berdasarkan penggambaran ini. Sedangkan menurut Chaplin, kognisi adalah konsep umum yang mencakup seluruh bentuk pengenalan, termasuk didalamnya mengamati, menilai, memerhatikan, menyangka, membayangkan, menduga, dan menilai.

Kaitannya dengan kuis di atas adalah, jawaban yang dianggap benar adalah hasil dari kemampuan kognitif yang baik. Kemampuan kognitif yang baik ini ditunjukkan dengan kemampuan untuk memahami teks secara utuh. Tidak sekedar membaca teks secara sepenggal demi sepenggal. Kemampuan kognisi yang baik membuat kita mampu membayangkan keseluruhan konteks kuis tersebut sehingga memungkinkan kita untuk menentukan langkah pertama yang harus diambil berdasarkan gambaran tersebut.

Mari kita cermati baik-baik kalimat di atas. [Saya sedang tidur] Lah namanya juga orang sedang tidur, tau darimana itu yang ngetuk pintu Ibu, lengkap dengan bawaannya pula. Logika darimana orang tidur bisa tahu fakta dibalik pintu? Kecuali kamu bisa project astral, kemungkinan besar kamu sedang bermimpi.

Maka jelas, pertanyaan apa yang dibuka dulu bukan pintu, roti, selai toples apalagi susu. Sebab susu tinggal diminum, eh. Apa yang dibuka dulu ini berkaitan dengan aktifitas tidurmu. Tangi cuk, alias wake up. Nha untuk bangun dan sadar sepenuhnya dari mimpi, ya buka muatamuuuuu (baca: Mata)

Afahamtum?


Mari kita lanjutkan obrolan kita ke kuis kedua yang gak kalah seru.

1+4 =5
2+5=12
3+6 =21
5+8= …
Ingat 98% orang salah menjawab tes ini. Bila anda menjawab dengan benar berarti anda jenius.

Hayooo, siapa yang jawab benar?
:p

Dengan bekal teori kognitif tadi, mohon baca baik-baik kuis di atas. Sementara itu, saya mau sedikit cerita tentang paragraf padu dan silogisme.

Paragraf Padu merupakan paragraf yang kalimat-kalimatnya tersusun secara logis dan serasi. Sehingga untuk menyusun kalimat menjadi paragraf padu, kalimat-kalimat penyusunnya haruslah memiliki urutan yang logis. Selain itu, antara kalimat satu dengan kalimat yang lain disambungkan dengan kata sambung atau konjungsi yang sesuai membentuk keserasian. Jadi jelas ya, kalimat-kalimat dalam sebuah paragraf itu harus disambung dengan kata sambung yang sesuai agar bisa disebut paragraf padu.

Selanjutnya adalah Silogisme. Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposisi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan). Preposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat dibedakan menjadi premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan premis minor ( premis yang termnya menjadi subjek). Dalam silogisme, sebuah kesimpulan, atau dalam hal ini jawaban, hanya bisa diambil dari dua pernyataan yang saling berhubungan.

Mari kita kembali lagi ke ‘kuis’ di atas. Seorang kawan menjawab 43. Saya tanya kenapa bisa begitu, dia jawab sebab hasil akhir hitungan adalah adalah gabungan seluruh nilai yang ada. “Coba liat tin, itu satu ditambah empat jadi 5.Tapi kok dua ditambah lima jadi dua belas? Kalau dipikir-pikir, dua belas itu kan dua ditambah lima ditambah value sebelumnya (5) yak? Nah, pas masuk ke 21 bener tuh. Harusnya jawaban terakhir itu empat puluh tiga dong. Kan lima tambah delapan plus 21” begitu katanya dengan menggebu. ‘Harusnya’? Iya, karena setelah itu dia melanjutkan curhatnya; ”Tapi kok salah ya?”

Jadi begini Mas,

Tolong cermati baik-baik kuis di atas. Apa judulnya? Oh situkan anak matematika yak, kalau dalam silogisme, premis mayornya yang mana, premis minornya yang mana? Loh kok jadi soligisme? Lha iya, kan situ mau cari konklusi alias kesimpulan tho? Dan masnya pun mak klakop. Tidak ada. Oke kalau begitu, teori silogisme tidak bisa dipakai njih. Ndak usah nggathuk-nggathukke angka-angka yang ada. Lanjut, di bawah angka-angka itu ada informasi yang cukup mencengangkan: ‘Ingat 98% orang salah menjawab tes ini. Bila anda menjawab dengan benar berarti anda jenius.

Mari kita baca baik-baik. ‘tes ini’. Hm, ‘ini’ merujuk kemana ya? Di mana kata sambung yang menghubungkan ‘itu’ dengan referensinya? Lha wong di atas tidak ada ‘kata’ tes kok. 
Berarti jawabannya apa? Di kalimat selanjutnya, shay. Bila anda menjawab dengan benar berarti anda jenius. ‘Dengan’ itu ‘cara’, pembuat ‘kuis’ udah baik banget tuh ngasih jawaban, kok situ masih ngeyel. LAGIAN KAN UDAH GUE BILANG DI ATAS SONO NOH!


Nah,kali ini kuisnya agak kompleks. Sebab ada beberapa versi jawaban benar. ‘Sebenar’ apa sih jawaban mereka? Mari kita cek kuis ketiga berikut:

Ada bus, isinya supir, ada nenek, ada orang buta, ada anak kuliah, ada pekerja kantor, semuanya turun di halte yang sama. Ketika berhenti di halte, yang turun duluan adalah....


Sekali lagi, mari baca baik-baik kuis di atas. Seperti biasa, saya akan memulai dengan memampang jawaban yang salah: Siapapun pilihan anda,jawaban anda tetap salah. Loh kok bisa? Sebab sejauh yang saya dapat, jawaban yang dianggap benar adalah ‘kecepatan’, ‘spedoometer’, ‘ban’ dan ‘kaki’. Dari keempat jawaban tersebut, mana yang menurut anda paling benar?

Setelah membaca kuis tersebut dengan seksama, jika kemampuan kognitif anda berkembang dengan baik, seharusnya kita bisa sama-sama membayangkan reka ulang kejadian. Sebuah bis dengan berbagai penghuninya. Masuk ke frase pertama kalimat kedua: Ketika berhenti di halte. Momennya adalah saat berhenti. Berhenti artinya tidak ada perpindahan tempat, berarti V = 0. Maka, opsi jawaban ‘kecepatan’ menjadi batal demi nalar. Kecuali jika premisyang diajukan adalah ‘ketika akan berhenti’. Paham beda antara ‘akan berhenti’ dengan ‘berhenti’, kan? Hal ini berimbas pada opsi jawaban ‘spedoometer’. Sebab ‘Spedoometer’ adalah bacaan data dari kecepatan. Kalau kecepatan nol ya jarum spedoometer juga di titik nol.

Bagaimana dengan Ban dan Kaki? Hm, mari kita bayangkan situasi kuis tersebut. Bus berisi beberapa orang yang akan turun di halte yang sama. Ketika si Bus sudah berhenti? Yang turun duluan adalah orang-orang di dalam Bus tersebut lah. Tapi siapapun orangnya, yang pasti turun duluan adalah kaki mereka!


Hal yang menarik dari ketiga kuis di atas adalah bagaimana kuis tersebut bisa memunculkan jawaban yang berbeda-beda. Rekan-rekan yang salah menjawab rata-rata ‘terjebak’ pada nomina yang disebutkan dalam kuis. Pilihannya? Tergantung pada pengalaman yang pernah mereka alami berkenaan nomina-nomina itu.Yang jawab roti ya karena biasanya ambil rotinya dulu. Yang jawab selai, ya karena biasanya ambil selai dulu.

Dalam kajian ilmu semantik, ada petanda dan penanda. Petanda adalah nomina terkait sedangkan penanda adalah konsep dalam kepala kita terkait petanda. Jadi ketika menyebut ‘selai’, maka otak kita akan membayangkan warna, bau serta rasa selai itu. Itulah kesatuan konsep tentang selai di di pikiran kita. Nah, Otak manusia ini unik, dia menyukai sesuai yang berbeda, yang melibatkan sebanyak mungkin indera. Ini adalah ‘jawaban’ mengapa nomina alias kata benda lebih cepat ditangkap oleh otak manusia sebagai fokus daripada kata kerja. Selanjutnya, tergantung pengalaman J


Bila kita mau sedikit berefleksi, sesungguhnya inilah sifat asli manusia. Cenderung fokus pada hal-hal yang lebih ‘menarik’. Harap diingat bahwa ‘menarik’ tidak selalu memiliki referen bernilai positif. Inilah yang sangat disayangkan. Ketika udah terlanjur benci, kita bisa dengan mudah ‘mengabaikan’ hal-hal baik dari seseorang. Bahkan, kita bisa mengabaikan keseluruhan konteks hanya karena terlanjur fokus ke satu titik.

Di kuis kedua, ini agak kompleks nih. Kecerdasan kadang membuat kita merasa paling benar dan nggathuk-nggathukke berbagai hal. Padahal tidak semua hal perlu disambung-sambungin. Mari belajar bersabar, melihat keseluruhan konteksdan melihat konektifitas satu hal dengan yang lain alih-alih terburu mengambil kesimpulan. Bila tidak ada penghubung antar titik, ya ndak usah dihubung-hubungkan.

Hayo ngaku, di dunia nyata, siapa yang suka uthak-athik gathuk, kesel sendiri, eh taunya Cuma asumsi doank. Heheheh

Nah, kalau yang ketiga ini sih sebenernya sederhana. Gunakan nalarmu sebaik-baiknya. Sebaik apapun pertimbanganmu, tetaplah kritis untuk menemukan pangkal dari segala hal.


Salam Nalar,

Afahamtum?


Senin, 01 Januari 2018

Ayat-ayat cinta 2 dan Rentetan Ironi tentang Bangsaku.


Well hello people, kali ini saya hendak menulis sebuah review film yang baru saja rilis. Review kali ini agak berbeda sebab saya justru memilih film yang tidak direkomendasikan oleh teman-teman maupun netijen. Sebelumnya terimakasih banyak untuk Mbak Teppy, berkat review dari Mbak Teppy, saya justru tertantang untuk menemukan sisi lain film ini. Selain itu, eug juga musti berterimakasih sama Agik yang tahu betul selera guyonku; I need some sarcasm to laugh. So, karena saya juga bukan tipe yang nyaman berkomentar tanpa mengalami langsung, Maka, inilah review nano-nano ala saya.

Disclaimer: ini adalah persepsi personal saya berdasarkan apa yang muncul di kepala saya saat menonton. Tidak bermaksud menjelekkan pihak tertentu, hanya sekedar merelasikan adegan-adegan di film sebagai ironi. Bukan sekedar tentang Islam, tapi ke-Indonesiaan, kemanusiaan dan lain sebagainya. Yass, saya mengaku dosa bahwa saya nonton ini film sambil cetat-cetet hape. Saya tidak akan membahas filmografi ataupun hal-hal yang terkait teknis penceritaan sebagaimana sudah dikupashabis nan tuntas oleh Mbak Teppy. Saya justru tertarik pada isu-isu yang mengalir di sepanjang cerita. Oke mari kita mulai.

Film dimulai dengan penggambaran sosok Fahri sebagai sosok yang waw: dosen favorit, sekaligus pebisnis yang kasat mata sukses. Berbagai sisi ‘baik’ Fahri diobral; mulai dari hapalan Quran, membiarkan perlakuan semena-mena tetangga hingga tetap berlaku baik meski diperlakukan tidak baik. Konflik mulai muncul ketika Hulusi menampakkan sikap kurang bersahabat pada Nenek Catarina yang merupakan Yahudi Sinagog. Raut muka Hulusi nampak amat tidak nyaman saat Fahri memilih untuk mengantarkan Nenek Catarina ke Sinagog. Hulusi makin kesal karena di Sinagog, perlakuan tidak baik justru diterima oleh mereka. Ketika Fahri menegur Hulusi yang bersikap seperti itu, Hulusi keceplosan bawa-bawa Aisha yang telah lama menghilang*spoiler. Terungkaplah bahwa Fahri selama itu berbuat baik ‘karena diamanati demikian’ oleh Aisha. Yang paling menarik adalah kata-kata Fahri menanggapi Misbah: “Pancasila ada di sini (sambil nunjuk dada-red), Bhineka Tunggal Ika ada dimana-mana” saat Misbah menyatakan bahwa keberagaman di Edinburgh tidak sama dengan di Indonesia yang punya Pancasila.

Saya merasa ini adalah kritik sosial pertama yang begitu menampar. Sementara di dunia parallel di sana (ini meminjam istilah Mbak Teppy untuk penggambaran suasana Edinburgh yang rasa Indonesia) ada yang mengingat bahwa Pancasila itu bukan tentang bagaimana aturan mengikat kita, tapi bagaimana Pancasila hidup di diri kita. Bahwa manusia yang mengaku Indonesia seperti kitalah pengejawantahan Pancasila itu sendiri. Mari kita lihat realita yang terjadi, dimana Ketuhanan yang Maha Esa saat ratusan kamisan dilewati oleh jemaat GKI Yasmin di depan Istana? Di mana Pancasila saat para pemeluk Ahmadiyah diserang dan tak bisa beribadah di rumah Ibadah mereka sendiri? Sebagian bahkan merasa paling benar sehingga bebas ‘menindak’ setiap hal yang tak sejalan dengan prinsip mereka. Musyawarah is non sense. Ada juga yang senang sekali membuat pergolakan di masyarakat sehingga massa terbelah dalam sekat-sekat dunia. Yang satu menunjuk yang lain dengan berbagai sebutan,Ahlu Hoax, Cebong, Bani Taplak dan lain sebagainya. Persatuan Indonesia menjadi keniscayaan. Apalagi tentang Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia? Sungguh lucu ketika bicara tentang keadilan sosial dari tanah jawa yang nyaman ini sambil terus menghujat Presiden yang mati-matian ‘menghidupkan’ tanah papua agar dinikmati oleh orang papua itu sendiri! Kalau sudah begini, masihkah Pancasila ada di hati kita?

Adegan lain yang juga mengusik saya adalah scene dimana Nenek Catarina menuduh Fahri ‘memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan’ hanya karena sekilas melihat Fahri menolong Brenda yang mabuk. Paginya, ketika Brenda mengklarifikasi kejadian malam itu dan justru berterima kasih pada Fahriyang menolongnya malam itu, Nenek Catarina meralat kata-katanya. Ha! Betapa indahnya dunia ketika kita dengan lapang dada mau mengakui kesalahan. Sedang di dunia kita, ada aja lho yang gak merasa salah sudah mengedit video sehingga menyebabkan orang lain tersangkut hukum. pft

Adegan selanjutnya adalah momen dimana Jason, remaja tanggung tetangga Fahri yang suka mencoret-coret mobil Fahri – tertangkap basah mengutil di minimart miilik Fahri. Alih-alih melaporkan ke polisi, Fahri justru mentraktir Jason milkshake paling enak di sebuah café entah dimana itu. ‘Kebaikan’ Fahri pada akhirnya membuat muak Jason yang benci diperlakukan baik sedangkan Ia selama ini berbuat jahat pada Fahri. Hingga akhirnya Jason terbawa emosi dan berdiri dengan meninggikan suaranya, tebak apa yang dikatakan Fahri pada Jason yang notabene masih bocah itu: “Let’s be friend. Sit down, please!”

Ini WOW. Mari kita jujur pada diri kita sendiri dan melihat berbagai fenomena carut-marut dunia. Dimana pendekatan kekeluargaan sekarang dalam penyelesaian berbagai konflik? Padahal jarene negeri ini adalah negeri yang menjunjung tinggi persaudaraan. Segala hal saling dipertentangkan. Masing-masing beragumen dengan teori konspirasi masing-masing. Ada pihak yang membela hak kemanusiaan LGBT, lantas ‘diserang’ secara personal dianggap bagian dari kelompok tersebut. Ada insiden seorang yang disebut ustad ditolak masuk suatu negara,eh disebut-sebut itu kepentingan 2019. Uiku opotoh. Jangankan kekancan, lha wong menurunkan sedikit tensi saja ogah. Pokoke pendapatku paling bener. Wes titik.Ra podo ra konco! Sungguh ironi, bahkan dalam islam pun ada etika untuk objektif (“lihatlah apa yang dikatakan jangan lihat siapa yang mengatakan”(Ali bin Abi Thalib)), serta jika membenci pun, yang dibenci adalah perilakunya, bukan orangnya.

Cerita selanjutnya adalah ‘pameran’ kebaikan Fahri yang lain lagi; buy back rumah Nenek Catarina yang secara sepihak dijual oleh anak tirinya, ‘menyelamatkan’ Keira – kakak Jason yang sama bencinya ke Fahri -- dari niatnya sendiri menjual diri dengan sebuah ‘drama’ agar Keira memahami betapa bahayanya tindakannya itu, hingga mendatangkan guru les biola untuk Keira. Klimaks momen ini lagi-lagi disponsori oleh Hulusi yang menegur Fahri dengan ucapan; “Mau sampai kapan Hoca menghamburkan uang untuk Nenek Catarina dan Keira?”

Di dunia nyata, mana ada sih orang yang justru membiayai rangorang yang musuhin dia? Gak usah jauh-jauh, di Endonesa aja, orang lebih suka berbondong-bondong bikin aksi berjilid-jilid untuk menuntut seseorang dipenjara, daripada menahan diri untuk tak berkomentar saat ada ‘kebijakan aneh’ macam penutupan jalan Tanah Abang dan bersama-sama bersabar melihat ‘hasilnya’. (tepok jidat, yang sabar ya, Pak Gub dan Pak Wagub :p)

Keanehan lain yang terekam di kepala saya adalah Baruch (anak tiri Nenek Catarina) yang menantang Fahri duel debat dengan topik Konflik Timur Tengah. Ehm, tepatnya isu Israel-Palestina.
Eiyaampuuuuuuuun, sejak kapan itu orang endonesah menyelesaikan perseteruan dengan kaidah ilmiah? Yang ada main tampol, twitwor dan worwor lain yang bertaburan dimana-mana. Belum lagi misleading, komen asal njeplak, post-truth. Hadehhhhhhhh. Anggota DPR yang terhormat lho, bisa bangeet menganggap bahwa negara bersalah ketika ada warganya yang ditolak masuk negara lain. Ada juga yang ditantang debat tapi gak nongol, ada. Ampuuuuuuuuuuuun. Nah, sebelum sesi ini, si Fahri sempet nolak todongan debat tuh. Dia bilang tidak melayani debat kusir. Ceilehhhhhhhhh, sebagai penghuni twitter saya ngakak.

Di sisi lain, pemilihan topik Israel-Palestine ini juga sesuatu buat saya. Konflik Timteng itu banyak, hlo… But why Israel-Palestine? Lalu dari sekian banyak pendekatan pembahasan tentang koflik ini, kenapa penjelasan yang disampaikan Fahri hanya mementahkan satu teori dari Amerika?

Adegan lain yang sudah pernah disinggung di linimasa adalah operasi face-off antara Hulya dan Aisha. Wajah Hulya ‘didonorkan’ ke wajah Aisha yang rusak sehingga mewujud sebagai Sabina. Terlepas dari ketidaklogisan proses operasi, hal ini mengingatkan bahwa di negara kita, umat muslim adalah golongan yang paling sering berselisih soal teknologi. Ada masa dimana donor anggota tubuh menjadi perdebatan. Jangankan menerima ‘sumbangan bagian tubuh’ bahkan untuk sekedar mengubah tampilan fisik, ada dalil yang ngenekki. Apalagi isu vaksin yang jelas-jelas ‘berasal’ dari selain manusia. Sungguh ironi, mengingat dulu perkembangan ilmu pengetahuan merupakan salah satu bagian dari kejayaan Islam. Tapi ah, yasudahlah. Oh iya, di novel, sempat diceritakan Fahri salah memanggil nama Aisha dengan ‘Hulya’. Duh, berasa jadi orang lain saat gak pake ‘alis’, ya gak sis? :p

Hampir segala aspek di konten cerita ini mengandung ironi yang tajam. Bahkan pilihan hidup Fahri yang merindukan kehidupan Indonesia, Pancasilais dan tentu saja kaya, tapi memilih tinggal di luar negeri. Sehingga sesuai dengan penjelasan taxmin gaul Direktorat Jenderal Pajak bahwa orang Indonesia yang tinggal minimal 188 hari di luar negeri adalah Objek Pajak Luar Negeri. Sepertinya familiar ya dengan orang-orang kaya di Indonesia yang mengaku Pancasila tapi lebih memilih di luar negeri. Ah, mungkin cuma sekedar ingin berderma pajak ke tetangga sik J

Oh iya, ada satu aspek yang sebenarnya saya ragu untuk berkomentar, sebab bagian ini berbeda dengan versi novel. Apalagi kalau bukan tentang ‘kebutaan’ Fahri atas identitas asli Sabina. Di film Fahri baru sadar identitas asli Sabina saat Hulya dalam kondisi kritis. Ini lucu sih ya, seolah Fahri begitu ‘buta’. Well, kadang cinta memang buta, kan? Tapi kalau di novel, Fahri sebenarnya sudah lama mencurigai Sabina. Mulai dari cara menyajikan teh, puisi romantic yang dibacakan Hulya ke Fahri – yang ternyata di’ajarkan’ oleh Sabina, padahal puisi itu cuma Fahri dan ehm, Aisha yang tahu. Tapi yha entahlah. Ironi-ironi yang bertebaran kebanyakan memang mentah sih.


Habiburrahan El Shirazy menggambarkan dunia idealnya dengan begitu ‘sempurna’. Dan mimpi yang sama mungkin membuat sebagian merasa tertampar karena realita tidak seperti itu. Entah karena keegoisan manusia itu sendiri, atau memang kondisi ideal tersebut adalah niscaya. Jadi bagi Anda yang serta merta merasa kesal dengan poster promosi film yang dianggap , selamat! Sesungguhnya Ironi itu memang membangkitkan kecamuk di jiwa anda. Bahwa kadang pilihan di dalam hidup tak selalu merupakan pilihan-pilihan yang merdeka.
(baca: poligami tidak sesederhana itu yey, bahkan ada setiap perempuan dalam film AAC2 'membawa' konflik mereka masing-masing)

Rabu, 27 Desember 2017

Jakarta dan Pesona Sawah Perak


Petang itu selepas menjenguk nenek di sebuah rumah sakit jantung di Jakarta Pusat, saya berencana menggunakan jatah tiket nonton gratis saya. Tapi entah kenapa rasanya ada yang mengganjal. Sambil menetapkan diri jadi nonton atau tidak, saya memilih duduk di pinggir jalan, sambil ngemil Bakso Malang di depan RS.

Sembari menyesap aroma loncang yang efektif menambal rasa kuah yang biasa-biasa saja, saya iseng ngobrol sok asyik sama si penjual yang sedari tadi sudah melirik saya. Lelaki paruh baya itu berasal dari Pacitan, sebuah desa yang dikenal Kota Seribu Goa di Jawa Timur. Sebut saja namanya Pak Samin. Sejak Ibunya meninggal beberapa tahun silam, Ia memutuskan merantau ke Ibukota.”Daripada numpang di rumah sodara, kan gak enak Mbak. Kalau masih ada orang tua kan masih gak papa. Kitanya nemenin (orang tua-red). Lha kalau gak ada (orang tua lagi – red) kan gak enak. Tinggal seatap sama sodara sama bininya. Nanti orang bilang apa” begitu kata Pak Samin.

Pak Samin mengawali petualangannya di Jakarta dengan menjadi pekerja di Tanah Abang. Saat itu gajinya Rp. 1.200.000,- per bulan. “Tapi habis buat bayar utang makan sama rokok di warung Mbak, paling sisa dua ratus” kata Pak Samin sambil terkekeh memperlihatkan giginya yang masih terbilang bagus untuk ukuran perokok di usianya. “Makanya saya gak betah, lalu saya jualan Mi di RS sana (Pak Samin menyebut sebuah RS tapi untuk alasan tertentu saya samarkan). Di sana lumayan laris sih. Terus tiba-tiba aja saya pengen jual Bakso Malang, yaudah saya pindah ke sini”

Sudah sekitar lima tahun Pak Samin menempati lapak ini. Menurut Pak Samin, lapaknya sekarang pernah ditawar hingga lima belas juta rupiah. Sebuah harga yang fantastis menurut saya melihat rupa gerobak Bakso Malang yang biasa-biasa saja. Tapi Ia tak tertarik untuk melepas lapak itu. Menurutnya, lapak yang ia tempati sekarang sangat strategis. Berada di depan rumah sakit sekaligus di depan Jembatan Penyeberangan Orang, sehingga orang dari seberang bisa mudah mengakses lapaknya. “Dulu saya beli (lapak – red) ini murah Mbak, cuma lima juta. Sekarang tinggal bayar uang keamanan aja tiga ratus sebulannya. Dulu saya di sono tuh Mbak (menunjuk pintu keluar RS, di bawah JPO), itu sekarang gak dijual, sistemnya kontrak, sepuluh juta setahun. Kalau yang ini (menunjuk gerobak nasi bebek di samping kanan lapaknya) tujuh jutaan setaun, orang baru juga,” Hati saya mencelos mendengar angka-angka itu.

Dengan deretan angka-angka tersebut, saya jadi penasaran berapa penghasilan Pak Samin. Mengingat harga Bakso Malang lengkap yang ia jual sebesar sepuluh ribu per porsi. “Ya kalau habis gini sih dua ratus lima puluhan, paling sepi seratus lima puluh lah”. Otak saya langsung sibuk menghitung. Bila dipukul rata Rp 150.000 per hari , jika Ia istirahat setiap hari minggu maka penghasilannya minimal Rp. 3.600.000 per bulan. Angka yang hampir mencapai UMR Jakarta.

“Gak pulang aja, Pak? Garap sawah di kampung?” Saya mencoba berkelakar.


“Lha justru sawah saya itu di sini Mbak. Anggep aja dari setaun kita kerja 10 bulan, dua bulan untuk istirahat pulang kampung. Tiap bulan saya bisa dapet seenggaknya tiga juta. Setaun berarti tiga puluh juta. Kalau di kampung (garap sawah – red) mana bisa dapet segitu Mbak. Belum bayar utang pupuk, bayar orang garap sawah, duh gak mungkin” Dan saya pun manggut-manggut pura-pura mengerti apa yang Ia ucapkan. Ah Jakarta, Sawahmu terlalu menyilaukan. Entah tinggal menunggu waktu berapa lama lagi hingga suatu saat aku harus sarapan receh karena beras tak lagi tersedia di pasaran.

Selasa, 26 Desember 2017

Sebuah Catatan tentang Literasi


Halo manusia, jumpa lagi dengan tulisan saya. Kali ini saya akan menggunakan gaya yang agak santai. Mari berdialektika.

Literasi, sebuah kata yang akhir-akhir ini mengusik pikiran saya. Saya selalu berasumsi bahwa literasi adalah sesuatu yang berhubungan dengan kemampuan membaca. Pada titik tertentu, kemampuan membaca ini berkembang menjadi kemampuan memahami konteks. Ditambah dengan pengalaman bersentuhan dengan kampanye literasi, saya semacam ‘semakin dibuka matanya’ tentang literasi itu sendiri. Bahwa literasi pada akhirnya berkaitan dengan akses bacaan, terutama bacaan berkualitas.

Nah, berhubung sekarang saya hendak menggunakan topik literasi ini sebagai bahan tulisan, maka saya memilih untuk menggunakan referensi yang lebih valid tentang hal ini. KBBI V menjabarkan literasi dalam 2 pengertian. Pengertian pertama literasi dimaknai dalam dua hal: literasi sebagai kemampuan menulis dan membaca; serta pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu. Contoh pengetahuan atau keterampilan ini misalnya ‘Literasi Informasi’ yang bermakna keterampilan melakukan riset dan menganalisis informasi untuk dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan. Selanjutnya, mari kita bergeser ke pengertian literasi yang satu lagi. Pengertian kedua mengenai literasi menurut KBBI V adalah penggunaan huruf untuk merepresentasikan bunyi atau kata.

Well, bila kita menggabungkan kedua pengertian itu menjadi satu, rasanya masih masuk akal. Bahwa literasi adalah kemampuan seseorang menggunakan huruf untuk membuat kata. Jadi kalau masih suka typo, bisa jadi kemampuan literasi kita kurang sih, eh. Gue sering soalnya, padahal mata juga sering kelilipan kalau liat orang lain typo apalagi salah menggunakan kaidah bahasa. Ini kok jadi curhat. Nah, kemampuan literasi ini gak sebatas kita bisa mengeja kata dengan benar, tapi bagaimana kita menggunakan kata-kata yang tepat untuk membuat sebuah kalimat. Kalimat yang tentu saja mudah dipahami oleh orang lain. Berlaku pula sebaliknya bahwa literasi adalah kemampuan kita memahami teks orang lain secara tepat. Bahkan kemampuan literasi tidak  sekedar sampai di titik memahami. Di tingkat literasi informasi, pemahaman teks tersebut dicapai dengan kaidah-kaidah ilmiah dan dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan.

Maka klaim kemampuan literasi menuntut pengklaimnya lebih dari sekedar mampu membaca aksara. Tetapi juga menuntut penggunaan kaidah ilmiah dalam proses memutuskan sesuatu. Adakah keputusan tersebut telah diambil berdasarkan data-data valid? Atau yang sedang ngehits; adakah komentar-komentar kita sudah sesuai konteks dan data yang digunakan sebagai pijakan telah dipastikan valid?

Beranjak dari pengertian bahwa kemampuan literasi adalah kemampuan memahami informasi,maka kemampuan literasi akan membuat kita mampu untuk ‘membaca’ sabda lingkungan.  Informasi-informasi di lingkungan baik alami ataupun buatan bertebaran dimana-mana. Ada mendung yang berarti sebentar lagi hujan, ada sore berarti sebentar lagi malam, ada tingkah anomali binatang gunung yang tiba-tiba turun gunung serentak tanda akan ada erupsi, dan lain sebagainya. Ada senyum lebar tanda bahagia, ada senyum simpul tanda malu-malu. Ada juga alat petunjuk isyarat lalu lintas warna merah yang artinya berhenti, ada rambu-rambu huruf P dicoret yang berarti dilarang parkir. Kalau lampu APILL berwarna hijau menyala dan anda diam saja, kemudian kendaraan belakang membunyikan klakson berkali-kali, nyaman gak? Pantaskah jika anda mengomel karena beranggapan bahwa kendaraan belakang tidak sabar?

Saya sungguh tertawa ketika sebuah institusi menolak kriminalisasi perilaku tertentu, lantas ada yang dengan begitu menggebu-gebu menyimpulkan bahwa institusi tersebut melegalkan perilaku tersebut. Kriminalisasi adalah proses yang memperlihatkan perilaku manusia yang semula tidak dianggap sebagai peristiwa pidana, tetapi kemudian digolongkan sebagai peristiwa pidana oleh masyarakat (KBBI V). Pidana itu sendiri bermakna kejahatan (tentang pembunuhan, perampokan, korupsi dan sebagainya). Kalau melegalkan ya membuat jadi legal, gak usah pake KBBI juga orang paham. Sedang legal berarti sesuai dengan peraturan perundang-undangan atau hukum.

Apakah melegalkan sama dengan mengijinkan apalagi mewajibkan? Pernikahan adalah hal yang legal di negara kita menurut perundang-undangan yang berlaku. Apakah itu berarti semua orang wajib menikah dan yang tidak menikah berarti melakukan tindakan kriminal? Seriously, kita punya masalah dalam memahami sesuatu.

Kita mendadak setiap akhir tahun kesulitan membedakan antara mengucapkan dengan menjadi sesuatu. Beberapa orang ketakutan setengah mati, merasa bahwa mengucapkan selamat berarti serta merta menjadi bagian dari kelompok tertentu yang diberi ucapan selamat. Apakah orang-orang yang mengucapkan selamat atas kemerdekaan Indonesia dulu serta merta menjadi warga negara Indonesia? Apakah ketika saya sebagai fans Juve mengucapkan selamat atas kemenangan Inter atas Juve sekian tahun yang lalu, berarti otomatis saya mengkhianati kecintaan saya pada Juve? Apakah itu berarti saya menganggap Inter Milan adalah klub yang lebih baik dari Juve sehingga lebih layak didukung? Apakah dengan memberi ucapan selamat, itu berarti saya telah berhenti menjadi fans Juve dan beralih ke Inter Milan?

Bahkan ketika mengucapkan selamat atas pernikahan seorang teman, apakah kita juga otomatis serta sekaligus menyepakati sejarah kelahirannya, siapa orang tuanya, bagaimana ia dibesarkan dan sebagainya?

Saya tidak sedang memaksa anda untuk sepakat dengan pemikiran dan sudut pandang saya. Tapi saya benar-benar menyarankan agar kita semua memahami baik-baik makna dari setiap teks dan konteks yang kita baca. Jangan biarkan ketakutan-ketakutan tak beralasan membuat anda gegabah mengambil kesimpulan bahkan menghukumi sesuatu, apalagi mengeluarkan fatwa. Pun jika anda masih ragu-ragu, anda berhak berhati-hati. Tapi jangan ikut menyebarkan hal-hal yang tidak anda pahami dengan baik.



Tabik,

Salah Kaprah Toleransi


Tulisan ini terinspirasi dari status FB Cania tentang toleransi di FBnya, sekaligus bentuk keprihatinan saya atas pergeseran makna toleransi. Sebagai mantan mahasiswa linguistik saya akan membuka wacana ini dengan pengertian toleransi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Toleransi menurut KBBI V adalah 1. Sifat atau sikap toleran; 2. Batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan; 3. Penyimpangan yang masih dapat diterima dalam pengukuran kerja.
Dalam status FB yang kemudian viral tersebut, Cania menambahkan penjelasan bahwa toleransi itu ketika in default –pada kondisi normal—sesuatu bukan merupakan hak anda, tetapi pada saat tertentu publik mengijinkan anda untuk melakukannya. Dari konteks ini, siapa yang bertoleransi? Pihak yang membiarkan anda mendapat penambahan hak, atau pihak yang haknya dikurangi untuk kepentingan pihak lain.

Cania mencontohkan penggunaan jalan raya di depan pagar rumahnya untuk pesta kawin tetangganya. Cania sedang bertoleransi saat Ia dan keluarganya memutuskan membiarkan tetangga tersebut melangsungkan hajatnya di ruang publik yang notabene milik bersama.

Kita bisa dengan mudah sepakat soal toleransi saat batas-batas wilayah terlihat jelas. Hak kepemilikan properti anda jelas seiring batas pagar antara tanah anda dengan jalan, atau tanah anda dengan tanah tetangga.

Bagaimana dengan hal yang tak memiliki batasan jelas seperti langit?
Hal yang sama dengan langit. Langit adalah ruang publik yang perlu dijaga bersama. Di ketinggian tertentu bahkan diatur dalam regulasi tertentu agar tidak mengganggu. Misalnya tentang aturan drone yang tidak boleh terbang di area-area tertentu. Bahkan untuk hal-hal yang tak kasat mata. Misalnya frekuensi gelombang radio. Memang tidak terlihat oleh mata telanjang. Tapi mohon pahami serta ikuti aturan yang ada bahwa ada frekuensi-frekuensi tertentu yang dikhususkan untuk kepentingan tertentu. Bahkan ada yang membayar sejumlah harga tertentu untuk penggunaan saluran, misalnya radio komersial. Kan gak lucu di tengah cuap-cuap penyiar kesayangan kita, tiba-tiba diinterupsi orang iseng yang menerobos saluran? Memang agak jarang ya ilustrasi ini terjadi, sebab masuk ke gelombang FM memang tidak mudah. Tapi bagi Anda yang suka main Radio Amatir tentu paham sekali betapa pentingnya jalur yang bersih. Hanya karena anda punya HT, bukan berarti Anda bebas nge-jam ke sembarang saluran. Nah, di beberapa kejadian misalnya di kondisi darurat, beberapa komunitas memberikan akses frekuensi untuk digunakan oleh relawan-relawan berkomunikasi. Ini namanya toleransi. Anda membiarkan orang lain menggunakan apa yang menjadi hak milik anda untuk kepentingan mereka – setidaknya kepentingan bersama.

Lalu bagaimana dengan ceramah agama yang diperbesar volumenya secara drastis hingga terdengar jauh dari rumah ibadah?

Anda tentu memiliki hak kepemilikan mutlak atas properti yang anda miliki. Baik tanah maupun bangunan. Silahkan melakukan apapun di properti milik anda sendiri asal tidak bertentangan dengan ideologi negara. Jangankan kajian agama, mau bikin ajep-ajep pun, silahkan saja. Anda mau jungkir balik, asalkan tidak mengganggu tetangga,termasuk soal suara, silahkan saja. Kalau anda membuat pertemuan untuk mengkudeta Indonesia dan terbukti ya siap-siap saja berhadapan dengan negara.

Saya mendengar langsung keluhan seorang kawan hindu bahwa Ia cukup terganggu dengan ceramah agama dari sebuah pengeras suara suatu rumah ibadah yang kadang kala melabeli sesat agama yang lain. Padahal jarak tempat tinggalnya dengan rumah ibadah tersebut cukup jauh, sekitar 300 meter. Dia sih merasa tidak keberatan untuk azan, itung-itung alarm alami, begitu katanya. Tapi jika hinaan-hinaan serta ucapan menyakitkan dikumandangkan di langit, di mana teman saya ini juga berhak atas langit yang bersih dari ucapan-ucapan menyakitkan, tentu saja mengganggu.

Harap diingat bahwa hak kepemilikan atas properti yang dimiliki antara teman saya ini dengan hak kepemilikan atas properti pemilik rumah ibadah adalah sama. Berhak berkegiatan sesuai dengan keinginannya di properti masing-masing. Tapi apabila di antara aktifitas masing-masing ada yang terganggu karena aktifitas yang lain, Ia berhak merasa keberatan. Bila selama ini ia diam, itu karena Ia memilih menjadi toleran. Tapi itu tidak membenarkan tindakan rumah ibadah tersebut.

Saya teringat pengalaman saya di pelosok Maluku dulu, di mana saya menjadi minoritas. Di situ saya menemukan toleransi yang begitu hangat. Sebuah rapat pleno dipending selama kurang lebih 15 menit untuk saya berbuka puasa. Bukan hanya diberi waktu, tapi mereka juga menyiapkan makanan kecil untuk saya berbuka. Padahal saya satu-satunya peserta rapat yang berpuasa. Rapat tersebut dihadiri sekitar 40 orang dengan berbagai usia dan jabatan. Saya termasuk junior. Dengan agenda rapat yang jelas, tentu saja rapat tidak perlu dipending. Menyilahkan saya untuk keluar dari pertemuan sebentar sebenarnya cukup untuk memastikan hak beragama saya tidak tercederai. Tapi mereka memilih untuk menghentikan sementara rapat untuk menghormati kehadiran saya di pertemuan tersebut serta agar saya bisa menjalankan ibadah. Satu hal yang mengharukan adalah pesan dari pimpinan rapat sebelum rapat benar-benar dipending sebab saya sempat menolak tawaran pending rapat. Beliau berkata: “Kita membuka dan menutup pertemuan dengan mengucap doa pada Tuhan. Jika kamu tidak bisa berjumpa dengan Tuhanmu di dalam pertemuan ini, berarti kita semua di sini tidak sungguh-sungguh menghadirkan Tuhan di dalam pertemuan ini”.

Saya juga berkali-kali dibuat haru oleh para rekan di sana yang begitu bersemangat mengundang buka puasa bersama. Mereka tidak berpuasa, tapi justru mengeluarkan sejumlah uang dan menyisihkan waktu untuk menikmati kebersamaan. Bersama-sama memaknai puasa yang saya jalani sebagai kesempatan untuk bersyukur atas segala nikmat sehingga petang itu masih bisa menikmati makanan yang layak.

Masih tentang langit, di sana tidak ada Gereja yang memperdengarkan suara aktifitas ibadahnya hingga terdengar jauh dari luar rumah ibadah. Padahal sebagai kalangan mayoritas, ‘rasanya’sah-sah saja, apalagi bila melihat di jawa, banyak masjid yang merasa ‘sah-sah saja’ menggaungkan ceramah keagamaan hingga terdengar jauh dari masjid. Pernah sekali saya berkelakar dengan kawan di sana, kenapa tidak pasang TOA supaya umat yang jauh bisa dengar dari rumah. Toh saya yang minoritas ya mau gak mau pasti legowo. Dia hanya tertawa dan berkata; “Kalau mau ibadah ya datang ke rumah ibadah. Jangan malas apalagi manja. Ngakunya beriman tapi kok maunya Tuhan yang datang bawa firman”


Apakah isu toleransi ini hanya dalam perkara agama? Tidak.
Bos yang memberi ijin tidak masuk kerja karena anak Anda sakit adalah bentuk toleransi. Dosen yang membiarkan anda tetap ikut ujian meskipun jumlah kehadiran anda kurang juga bentuk toleransi. Musyawarah? Itu bagian dari toleransi. Sebab setiap orang memiliki hak berpendapat yang sama.Tapi bukan berarti pendapat itu otomatis jadi kesepakatan. Proses penyesuaian dan pencarian jalan tengah merupakan sikap toleransi itu sendiri sehingga pada akhirnya bisa ada kesepakatan bersama.

Ingatlah bahwa jauh sebelum perdebatan tentang toleransi terjadi, kearifan lokal telah menjadi contoh nyata toleransi. Misalnya apa? Budaya ngenyang alias tawar menawar terutama di pasar tradisional. Sebagai penjual yang memiliki hak penuh atas kepemilikan barang dagangannya, tentu penjual berhak menetapkan harga jual. Harga jual tersebut secara sederhana meliputi harga produksi, biaya operasional dan laba yang diinginkan oleh penjual. Lalu datanglah calon pembeli. Ingat ya, calon, sebab belum tentu proses tawar-menawar berujung pada transaksi. Pembeli dengan kemampuan ekonomi masing-masing datang dengan kepentingan memiliki barang yang ia inginkan. Jikalau penjual menetapkan harga mati sebagaimana toko modern, sebenarnya itu hak penjual. Tapi toh demi kebutuhan bersama, akhirnya penjual mau menurunkan hak atas laba yang ia peroleh hingga ke titik tertentu sehingga pembeli bisa mendapatkan barang dengan harga lebih murah.

Sebagai calon pembeli, apakah anda berhak marah-marah kalau penjual kekeuh menolak menurunkan harga? Tidak, sebab itu barang miliknya. Silahkan saja anda cari penjual lain yang mau menurunkan harga untuk anda. Sebagai penjual, apakah anda berhak marah bila ada calon pembeli menawar dengan harga terlampaui rendah? Saya kira kurang bijak. Cukup jelaskan titik tengah yang masih bisa anda tolerir. Bila Ia masih kekeuh meminta harga yang anda tetapkan, lebih baik anda menunggu pembeli lain. Barangkali ada yang mau membeli dengan harga yang anda tawarkan.

Termasuk di isu terbaru penanganan Tanah Abang. Sebagai warga negara yang ikut memiliki fasilitas publik (tentu saja karena saya ikut membayar pajak yang merupakan sumber pendapatan negara. Pendapatan tersebut lantas didistribusikan ke daerah termasuk APBD DKI Jakarta), sebenarnya saya bertanya-tanya kenapa fungsi jalan dialihkan menjadi tempat berjualan PKL. Tapi saat ini saya memilih bertoleransi untuk melihat bagaimana kebijakan tersebut berjalan beserta dampak kebijakan tersebut. Barangkali memang ada dampak tak terduga yang bisa dijadikan contoh untuk daerah lain. Tetapi ingat, saya tidak bisa memaksa orang lain ikut bertoleransi juga. Sebab setiap orang punya hak yang sama dengan saya atas fasilitas publik tersebut. Jika mereka memilih bersuara atas agresi ruang tersebut, itu hak mereka.

Yang perlu diingat adalah, toleransi berkaitan dengan hak. Anda tidak dikatakan bertoleransi saat anda memberikan THR bagi pekerja anda yang berbeda agama. Anda hanya sekedar melaksanakan kewajiban anda sebagai penyelenggara kerja menurut UU Ketenagakerjaan. Anda juga tidak dikatakan toleran hanya karena membiarkan pekerja anda beribadah di waktu istirahat mereka. Para pekerja bebas menggunakan waktu istirahat mereka sesuai keinginan mereka. Lain halnya jika anda memberikan waktu tambahan untuk beribadah di luar waktu istirahat normal kepada pekerja.

Lalu, apakah tidak toleran sama dengan intoleran? Menurut saya tidak selalu. Dalam kasus hajatan kawinan di ruang publik yang diajukan Cania, Cania bisa saja merasa keberatan jalan depan rumahnya digunakan untuk hajatan. Dia punya hak atas jalan raya di depan rumahnya itu. Tidak berarti Cania intoleran. Demikian pula di kasus ruang langit yang ‘tercemar ucapan menyakitkan’. Bila si kawan ini merasa keberatan, bukan berarti dia intoleran. Dia berhak menikmati langit yang damai. Kalau si kawan ini menyampaikan keberatannya, maka rumah ibadah tersebut sudah seharusnya menyesuaikan volume suara yang sesuai dengan bangunan mereka agar tidak sampai menggangu orang-orang di luar bangunan. Apalagi soal frekuensi radio. Apakah menolak frekuensi milik anda digunakan orang lain merupakan tindakan intoleran? Tidak, sebab itu hak milik anda.

Lain halnya jika anda memaksa sebuah toko makanan yang menolak membuat ucapan selamat natal untuk membuat ucapan natal di kue dagangan mereka. Ini intoleransi. Pemilik toko memiliki hak prerogatif atas produk yang ia jual. Kalau anda ingin ucapan natal, cari toko lain yang mau. Sama halnya dengan merazia warung makan yang buka saat puasa. Lah mereka yang punya kok, anda siapa melarang orang berdagang di properti mereka sendiri? Apalagi melarang orang lain memercayai apa yang mereka percaya bahkan mencegah orang lain beribadah di rumah ibadah mereka sendiri.

Yang paling penting, mari konsisten. Jangan anda marah-marah karena cabang pohon mangga tetangga menjulur ke tanah anda, tapi diam-diam anda memetik dan menikmati manisnya daging buah tersebut. Atau anda yang protes bila fasilitas publik dihias dengan dekorasi natal tapi sangat menikmati diskon besar-besaran yang diselenggarakan toko dalam rangka natal.


Tabik