Sabtu, 19 Maret 2016

(Calon) Pandega, SKU dan Bina Satuan

Dear kakak-kakak (calon) Pandega
Sungguh betapa beruntungnya kalian.

Diantara padatnya hiruk pikuk kehidupan kampus, dan kerasnya usaha untuk survive di tanah orang, kalian memilih untuk menempa diri lebih keras dari mahasiswa lain. Mengikat diri dengan Prasetya Racana, berjuang menjadi Pandega seperti yang sedang kalian jalani saat ini.

Oh, tidak.
Aku tidak sedang membahas privilege2 yang akan kalian dapat nanti. Kita telah sama-sama tahu ketentuannya kan?
Bukankah itu cita saat membubuhkan TTD prasetya?
Ah, sekali lagi kusampaikan salutku pada kalian, calon penerus bangsa.

Nah,
Sebelumnya, boleh kupinta waktumu sejenak untuk merenungkan apa yang akan kusampaikan?

Kita sama-sama percaya bahwa menjadi Pandega adalah awal dari sesuatu yang lain, maka di sinilah aku bicara tentang perjalanan menuju titik itu.

Teman,
Meski kegiatan ini 'cuma ekstrakurikuler', tapi di sinilah kita akan menempa diri menghabiskan kurang lebih 60th usia kita nanti.

Bukan hal yang mudah, maka mari kita bersiap-siap. Bersiap-siap agar kita dapat bertahan. Mayoritas Hidup kita toh di masyarakat kan, bukan di lab / ruang praktek dsb yg ilmunya kita pelajari di kelas.

Dan semua itu tak mudah. Penuh dengan tantangan, banyak cobaan. Dan tahukah, betapa beruntungnya kalian, para (calon) Pandega?

Hidup di dunia ini mengharuskan kita untuk berkomunikasi dengan segala jenis dan rupa manusia. Dari yang tua sampai yang muda, dari yg cuek sampai yang hobi kepo, semua ada.
Maka beruntunglah kalian yang memutuskan menjadi anggota racana. Bersama adik-adik binsat, kalian berlatih untuk berkomunikasi dengan baik. Bukankah anak-anak adalah makhluk paling jujur?
Merekalah yg akan tertarik bila kita memang menarik, dan merekalah yang pertama berpaling saat kita mulai menjadi membosankan.
Maka beruntunglah kalian yang 'berkesempatan' 'dilatih' oleh mereka :)

Teman2,
Di masa mendatang, urusan demi urusan akan bertambah, agenda demi agenda akan menumpuk, bagaimana kita menyelesaikan semuanya?
Bahkan sekarang, aku yakin tugas kuliah kalian pun menumpuk, meraung-raung minta perhatian. Pun demikian tanggung jawab kalian yang lain. Barangkali beberapa dari kalian juga berkegiatan di organisasi kampus yg lain.
Tapi ah...., toh kalian masih menyempatkan diri untuk binsat, dimana kalian harus mempersiapkan segala sesuatunya sebelumnya, rancangan materi, metode pembelajaran, alat Bantu ajar dsb...
Teman, inilah keberuntungan kalian, inilah kesempatan kita untuk berlatih mengatur diri, waktu dan tanggung jawab kita, kalau bukan sekarang, kapan lagi?
The more you wish, the more you have to do :)

Teman, pernah kesal karena adik-adik bunaan kita gak focus?
Berbagai cara dari ceramah sampai kuis, dari duduk manis sampai nungging barangkali udah kita coba, tapi teteeeeep aja, adik-adik kita sulit diatur.
Tahukah teman,
Bahwa kalian sedang melatih skill Initiating Action kalian?
Tak hanya adik-adik binsat,
Dunia kita kelak akan semakin menantang.
Kalau bukan inisiatif kita yang aktif mencari solusi, mana mungkin kita bertahan?
Mari terus berlatih :)

Teman2,
Gimana rasanya ngalamin nembak 'ditolak'. Berapa kali kita dipelengosin adik-adik?
Berapa kali ide kreatif teman2 'ditolak' pengurus karena satu dan lain hal.
Toh teman2 tidak berhenti berusaha. Banyaknya penolakan hanya membuat kita semakin kuat.
Begitulah dunia, teman2, yang kuat yang akan bertahan.
Maka, teruslah menempa diri, teman2.
Mari menjadi tangguh.

Teman2,
Jangankan menghadapi puluhan anak2,
Menghandle 4-6 anak aja udah luar biasa.
Boleh ngacung yang sering puyeng ngadepin dedek-dedek emesh-yang-kayak-minta-dilempar-saking-ajaibnya.
Tapi toh kita yang akhirnya beradaptasi, mencari berbagai macam pendekatan yg efektif.
Begitu juga dunia, teman2.
Bukan dunia yg menyesuaikan kita,
We are the one who have to fit in it.
Maka tetaplah berlatih beradaptasi, teman2 :)

Teman2,
Tentu kita gak bisa milih Siapa yg jd adik binaan kita. Kadang lucu, kadang aneh, kadang ajaib. Siapapun, tugas kita tetap, mendidik mereka.
Mbuh piye carane.
Demikian juga dunia, teman2.
Kita gak selalu bisa milih akan bekerja dengan Siapa. Kadang asyik, kadang nyebelin. Tapi toh tanggung jawab adalah tetap adanya.
Maka lewat adik-adik kita, mari kita latih skill 'building Positive working relationship'.
Mari belajar membangun hubungan kerja yg baik terlepas dr siapapun rekan kita.

Teman2,
Pernah ngerasa galau?
Ada acara kumpul2 sama temen sekolah, tapi juga ada binsat,
Ada tempat dolan asyik, tapi tugas kuliah belum kelar?
Hayooo, pilih yg mana?
Gak gampang emang. Semua keputusan ada konsekuensinya.
Maka, lewat amanah sebagai kakak binsat, mari kita latih skill Decision Making kita agar tidak ada penyesalan di kemudian hari.

Teman2,
Pernah bingung harus bersikap bagaimana? Bingung harus ngajar dgn metode apa? Bingung gimana harus ngomong tentang anak didik kita ke orang tua?
Padahal jawabannya sederhana:
Dulu, saat jadi murid, kita pengen diperlakukan bagaimana oleh guru kita?
Dulu, kita pengen guru kita ngomong apa ke ortu kita?
Dulu, kita pengen diajar dgn cara bagaimana, oleh guru kita?
Mari kita mulai dengan menerapkan seperti apa kita ingin diperlakukan.
Gak gampang emang.
Maka mari kita latih dr sekarang :)

Teman2,
Menjaga komitmen untuk menyelesaikan amanah itu tidak mudah.
Kadang rasa malas muncul, kadang blank mau ngapain. Belum lagi soal SKU, kadang gak nggayuh mau digarap.
Tapi itulah dunia, teman2,
Kalau menjaga komitmen pribadi saja tidak berhasil, bagaimana kita bisa menjalin komitmen dgn org lain?

Terakhir,
Akan seperti apa kita ingin dikenang, teman2.
Apapun yg kita lakukan akan berdampak. Melarang anak melakukan sesuatu akan berbeda dgn membuat mereka mengerti mengapa tidak boleh melakukan sesuatu.
Kemampuan itu-membuat seseorang melakukan / tidak melakukan sesuatu bukanlah kemampuan yang tiba2 muncul.
Perlu latihan dan pembiasaan.
Mari kita mulai dari belajar 'memberi pengaruh' adik-adik binaan kita kita.

Wah,
Ternyata banyak sekali ya 'keberuntungan' dan 'kesempatan' kita.
Semangat!
Terus berjuang teman2?
Ingat bahwa segala sesuatu perlu latihan, mari kita mulai dr Binsat, dan tentu saja SKU masing2 dr kita.

Salam salut dari pengagummu.

Earth Hour dan Kemunafikan sebuah Idealisme

*tulisan ini saya buat beberapa tahun yang lalu, diposting ulang untuk mengingatkan teman2 sekalian akan konsistensi kita untuk berkontribusi*

Sabtu, tanggal 27 Maret lalu, beberapa pesan pendek masuk ke ponsel saya. Semua membawa pesan yang sama, “Matikan lampu selama 1 jam, mulai pukul 20.30 hingga 21.30, dalam rangka Earth Hour, mencegah global warming”. Sebelah alis saya pun mengernyit...
Pesan itu tak terhenti disitu, sebagian besar teman saya sibuk menyerukan secara lisan ajakan itu dengan menggebu-gebu, “Cegah global Warming mulai sekarang”. Begitu katanya. Sebagian lagi merasa gelisah, was-was jika nanti, tepat pukul 20.30, listrik akan padam. Maklum, saat itu kami sedang berada di asrama Tafsir Qur'an. Bisa dibayangkan, betapa lampu sangat dibutuhkan. Jika lampu padam, kegiatan belajar mengajar tentu akan ikut terhenti pula.

“Ayo cepetan, keburu listriknya dimatiin.” kata salah seorang teman. Aku hanya tersenyum, dan berujar, “Nggak mungkin lah, PLN nggak ada sangkut pautnya ama program ini, Ini kan tergantung kesadaran pribadi tiap orang. Mau ikut berpartisipasi ya ayuk, kalo nggak ya udah....”. Dan si Mbak dengan ngototnya menyanggah, “Ya nggak mungkin, ini tuh program seluruh dunia, pasti ntar bakal mati listriknya!”. Maka kami pun menunggu....
Teng,...
Pukul 20.30 tepat, listrik tetap menyala....

Aku teringat masa-masa SMP, ketika slogan “Jogjaku Bersih” ramai didengung-dengungkan. Setiap PNS menjadi duta kebersihan dengan pin tersenat di dada kanan, lengkap dengan lambang Pemkot Yogyakarta dan gambar orang membuang sampah. Dinas kebersihan sibuk memasang 2 jenis tempat sampah, Biru untuk sampah organik, dan oranye untuk sampah plastik di setiap sudut kota. Tanaman-tanaman peneduh dipasang di pinggir-pinggir jalan, tak lupa, berbagai pamflet disebar di banyak tempat mengkampanyekan program tersebut.

Tapi,....
Beberapa waktu berselang, pin berslogan “Jogjaku Bersih” masih dengan tertib terpasang di dada para pegawai, tapi 'budaya' berkata lain. Sampah-sampah masih berserakan, pohon-pohon perindang tak lagi terawat. Yang paling menyedihkan, sampah bercampur baur hingga kadang menimbulkan bau tak sedap. Bahkan tak jarang, tempat sampah-tempat sampah tersebut hilang ditelan waktu...

Jauh sebelum program Jogjaku Bersih dicanangkan, pemerintah telah 'menunjukkan kepedulian yang cukup nyata' terhadap isu ini. Kali ini berkaitan dengan ragam administratif. Standar kertas yang digunakan dalam administrasi resmi 'turun pangkat' dari HVS 90 gram menjadi HVS 80 gram. Sayangnya, sosialisasi kebijakan ini belum mencapai 'akar rumput'. Belum semua instansi memberlakukan kebijakan ini.

Ketika pemerintahan SBY naik pangkat, 'operasi lawan global warming' makin marak. Tak kurang, SBY sendiri yang menyerukan minimalisasi penggunaan AC, serta menyerukan penggunaan batik sebagai pengganti jas, untuk mengurangi kegerahan. Tapi, seruan tinggal seruan. Hampir semua pejabat telah kembali 'nyaman' dengan jas masing-masing. “Toh, yang bayar listrik kan negara....” Begitu mungkin pikiran mereka.

Dan kita tak bisa begitu saja melupakan ajakan PLN untuk mematikan sebuah lampu pada jam-jam puncak beban listrik, yaitu antara pukul 18.00-06.00. Hanya yang sayang, sekali lagi, tak semua masyarakat bersedia berpartisipasi pada program ini.

Kita kembali pada isu Earth Hour, saat itu, terutama remaja, saling berlomba-lomba untuk berpartisipasi. Tapi seolah lupa, di luar Earth Hour time, berapa jam televisi menyala di rumah-rumah mereka tanpa ada yang menonton, berapa lama listrik terbuang ketika kita membiarkan charger HP kita tetap menempel semalaman? berapa banyak listrik terbuang untuk komputer, dan radio yang menyala tak henti di kamar untuk sekedar 'menemani tidur'?, Atau, berapa banyak listrik terbuang untuk menghidupkan kembali sebuah komputer / laptop yang kita tinggal sejenak, sulitkah untuk meng-hibernate-kan gadget kita?. Sulitkah mengubah profil Hp kita menjadi “Energy saving mode”, atau mengosongkan wallpaper, menggunakan modus getar, atau segera mengangkat telepon / membuka pesan sehingga ringtone tak perlu mengalun lebih lama?

Lalu saat sebagian remaja lain berjuang meneriakkan penyelamatan hutan, sebagian yang lain 'membuang' berlembar-lembar kertas hanya karena 'salah ketik'. Beberapa civitas akademika masih mempertahankan tradisi kuno, mengumpulkan tugas yang hanya sekian puluh kata dalam bentuk print out. Pernahkah kita berpikir, berapa hektar hutan papirus yang bisa kita selamatkan jika kita mau 'sedikit' berevolusi dengan memaksimalkan penggunaan E-mail?

Yang mencengangkan, sebagian dari kita yang meneriakkan upaya cegah global warming, terkadang melupakan detil-detil kecil yang sesungguhnya cukup berarti. Misalnya, berapa literkah air yang telah kita buang saat kita mandi? Berapa kubikkah polutan yang telah kita muntahkan dari kendaraan kita? Kemanakah bungkus permen yang kita makan isinya? Berapa banyak energi yang 'dibuang' sebuah pabrik untuk membuat makanan instan, sulitkah untuk memilih makanan olah?

Tapi, tak ada salahnya terus berjuang, Masih banyak hal-hal yang perlu kita pertahankan. Masih ingat Kalpataru? Penghargaan khusus dari RI1 untuk kota/ daerah Tk II yang dinyatakan paling bersih ini masih cukup menjadi alasan beberapa daerah untuk mewujudkan kebersihan lingkungan.

Kita bisa melihat perubahan yang cukup berarti di Ibu kota dengan program Jakarta Go Green. Program yang merambah sekolah-sekolah dasar dan daerah tingkat RW ini bisa dikatakan cukup berhasil.
Yang harus diingat, gerakan cegah global warming tak dapat terlaksana dengan satu-dua program mandiri, alias tak akan berguna tanpa tindak lanjut yang signifikan. Kita tak harus serta-merta mengandangkan kendaraan bermotor kita, atau menyingkirkan semua peralatan elektronik kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah menggunakan semua itu dengan sebijak mungkin.

Tentu tak sulit untuk mematikan lampu yang tidak digunakan, ataupun mematikan meteran listrik saat meninggalkan rumah dalam keadaan kosong, semua itu akan mencegah listrik terbuang percuma. Merencanakan rute perjalanan harian agar tak bolak-balik juga bisa mengurangi polutan [dan menyelamatkan kantong kita].
Bila keadaan memungkinkan, menggunakan kendaraan umum adalah alternatif yang cukup menguntungkan. Pertama, kita tak harus mengeluarkan biaya bahan-bakar pribadi, akan sangat menguntungkan dalam perjalanan jauh. Kedua, kita ikut andil mengurangi calon tambahan polutan yang mungkin terjadi jika kita menggunakan kendaraan pribadi. Dan jangan lupa untuk secara teratur menyervis kendaraan kita agar tetap terawat dengan baik. Kendaraan yang terawat dengan baik akan meminimalisir jumlah polutan yang dikeluarkan. Amat sangat disarankan untuk memilih jenis bahan bakar hemat energi untuk kelangsungan hidup planet kita ini, tentu jika keadaan [kantong] memungkinkan.

Selain itu, kita juga bisa menghemat cukup banyak listrik dengan mengganti lampu bohlam dengan lampu TL. Sebab, lampu TL mengubah 70% listrik menjadi cahaya, sedangkan lampu bohlam 'hanya' mengubah sekitar 30% energi listrik menjadi cahaya, sisanya dikonversi menjadi kalor.

Tak lupa, jadilah konsumen cerdas untuk ikut berpartisipasi dalam usaha cegah global warming ini. Membawa kantong belanja dari rumah akan mengurangi jumlah konsumsi plastik, dan memilih alat listrik hemat energi merupakan langkah bijak yang nantinya juga akan menyelamatkan kantong kita dari ancaman tagihan listrik yang membengkak. Tak lupa pula untuk memilih barang-barang yang bisa didaur ulang. Dan tahukah kalian, lebih memilih produk lokal dan organik juga membantu mencegah global-warming lho! Bayangkan, berapa banyak energi [bensin] terbuang untuk mengangkut produk impor masuk wilayah kita? Dan bayangkan berapa banyak polusi yang mencemari tanah dari pupuk kimia untuk menumbuhkan bahan makanan non-organik?

So, tidak sulit bukan untuk ikut berpartisipasi mencegah global warming. Untuk kehidupan yang lebih baik, mari kita mulai dari sekarang, dari diri sendiri, dan dari hal-hal kecil!

Tulisan asli bisa ditemukan di link:

https://mobile.facebook.com/notes/atina-handayani/earth-hour-dan-kemunafikan-sebuah-idealisme/355486386636/?refid=7

Minggu, 15 November 2015

Ceritanya Initiating Action

Kembali berkegiatan ala-ala anak muda, saya tertarik melihat profil seseorang, ditambah dengan ujaran “Kowe sehat? Ora” yang dilontarkan seorang kakak di perjalanan pulang, saya tergelitik menengok laman facebooknya. Pucuk dicita, ulam pun tiba. Voila, saya menemukan tulisan ini:
“Kowe Sehat ? Ora ;) Ketidakwarasan inilah yang membuat kita mau melakukan semua ini. Kalo waras, pasti kita ga bakal mau menanggung semuanya.Pengorbanan ? Bukan. Ini hanyalah sebuah pilihan. Pilihan untuk berbuat sesuatu, pilihan untuk melakukan, dan pilihan untuk tidak menyesal.Yup...tidak menyesal karena tidak melakukan hal-hal yang seharusnya bisa kita lakukan tapi urung di lakukan dengan alasan lelah, ga mood, bukan jobdescnya maupun alasan konyol seperti ga paham apa yang harus dilakukan tapi ga mau bertanya. Rasa lelah dan kantuk yg melanda, demam bahkan opname tak kan mampu menghentikan kita.Demi apa ? Demi kesuksesan acara...bukan Demi membantu teman...bukan Demi penghargaan...bukan Demi harta...bukan (kl dapat ga nolak loh :-D) Demi apa ya ??? Entahlah. Mungkin demi kepuasan pribadi.”

Saya teringat sebuah kata: Initiating Action. Sebuah perilaku melakukan lebih dari yang diminta. Mengerjakan tugas melebihi tugas pokok yang dibebankan. Tapi ada ragu yang terbersit. Apa iya, itu yang dimaksud dengan Initiating Action?
Saya teringat diskusi saya dengan seseorang mengenai definisi Initiating Action ini. Meninjau perilaku saya yang selalu memback-up tugas guru lain yang sering kali, bahkan tiba-tiba tidak hadir ke sekolah. Menghandle kelas rangkap di angka dua atau tiga Rombel adalah suatu ‘hal biasa’. Bahkan pegang 4-5 kelas bersamaan hampir pasti terjadi tiap minggu. Saya merasa telah melakukan Initiating Action, dimana tanggung jawab saya sebagai wali kelas 3 hanyalah ‘sekedar’ menangani kelas tersebut. Harapannya sih, rekan guru yang lain meniru perilaku saya itu, dengan senang hati menghandle tugas rekan lain yang tidak masuk. Tentu saja saya berharap esok mereka tak lagi-lagi tidak masuk tanpa pemberitahuan. Atau bahkan bergantian mengisi kelas saya saat saya tak bisa masuk kelas. Sekali dua kali, sebulan dua bulan, hal itu terjadi berulang kali, tapi perubahan yang saya harapkan tak jua muncul. Saya mulai lelah, lantas memutuskan untuk berdiskusi, barangkali ada yang kurang tepat dari metode saya.
Setelah sesi curhat yang cukup panjang, sampailah pada giliran rekan yang saya curhati untuk memberi feed back. Ia bertanya tentang faktor apa yang mungkin jadi penyebab belum ada perubahan sikap (pada rekan guru), meski sudah diberi contoh berulang kali. Jawaban saya tentu sederhana: Kasihan anak-anak, sudah semangat sekolah, tapi tidak ada yang mengajar. Ia bertanya: "Sudah disampaikan kah?"
Lalu saya teringat, tujuan itu, tujuan yang tak pernah tersampaikan ke para rekan guru. Sehingga bisa jadi tugas lebih yang saya over-handle saat itu tak memberikan hasil yang signifikan. Justru hal sama berulang terus.
Lantas saya terpikir untuk meninjau kembali definisi Initiating Action. Menurut sebuah buku pegangan tentang Kompetensi Kepemimpinan yang dibuat oleh sebuah lembaga dimana saya sempat terlibat di dalamnya, definisi Initiating Action adalah “Kemampuan untuk bertindak segera untuk mencapai tujuan; melakukan tindakan untuk meraih sasaran melampaui yang disyaratkan, bersikap proaktif. Perilaku utama: 1. Berespon dengan cepat, 2. Bertindak independen, 3. Melakukan lebih dari yang disyaratkan.
Gotcha, ada satu hal yang saya lupakan: tujuan besar. Kompetensi Initiating Action tidak sekedar reaktif memback up tugas orang lain. Tapi melakukan hal yang seharusnya dilakukan untuk mencapai target. Di tempat saya bekerja saat itu jelas, tujuan besarnya adalah perubahan perilaku. Maka, (selalu) memback up tugas rekan lain seperti yang biasa saya lakukan saat itu justru menjadi semacam ‘parasit’, mendukung ketidakseimbangan selalu terjadi dengan menambal setiap lubang yang ada. Padahal, yang harus diperbaiki adalah sistemnya, menata ulang tata kerja.

Bagaimana cara kerjanya? Komunikasi. Sampaikan hal-hal yang memang perlu dibenahi. Kita bukan Superman yang bisa selalu mebereskan semua hal. Toh kita tak selamanya ada di situ, Pun, yang paling penting, sistem yang bekerja secara optimal dan kontinyu oleh semua komponen lah yang menajdi tujuan akhirnya, kan? Seperti tubuh yang sakit, minum obat bukanlah jawaban utama untuk ‘sembuh’, perubahan perilaku agar luka yang sama tidak terjadi lah yang terpenting. Bukan begitu?

Selasa, 27 Oktober 2015

Berbeda

Beberapa orang bilang bahwa menjadi berbeda adalah menyenangkan. Being different, and proud. Beberapa yang lain, yang merasa minoritas, merasa tertekan. Tidak menjadi kebanyakan orang membuat gerak mereka terbatas. Belum lagi bullying-bullying yang menerpa. Semakinmempertegas perbedaan yang ada. Benarkah?
Apa yang membuatmu nyaman?
Seorang kawan menyebar sebuah kuis di grup bincang-bincang online. Kuis tentang kepribadian berdasarkan situasi yang membuat kita nyaman. Sambutan anggota grup cukup riuh. Ada yang bahkan mengganti pilihannya. Saya sendiri terpaku. Merasa asing pada pilihan yang ada. Bukan karena tak pernah mengalami. Hanya saja definisi situasi yang ditawarkan sama sekali tak memberikan kesan tenteram pada diri saya. Meski telah sekuat tenaga membayangkan. Lantas saya mencoba membalik premis. Tarik nafas dalam-dalam, and I bring myself into peace. Very cozy and comfort place. Then I open my eyes. Slowly but sure. Darkness, total darkness.
Sempat tertegun sampai akhhirnya saya menyadari bahwa kegelapan dalam arti sesungguhnya lah, yang selama ini menenangkan diri saya sendiri. Ada alasan, mengapa mennarik napas panjang hampir selalu diiringi memejamkan mata. Sebuah alasan yang sama, mungkin saat sebuah semburat silau menantang, kelopak cenderung menyipit dan menoleh ke belakang. Sometime we need to get back. Make some space from the world. Manage ourself in a milisecond to face the bright, in darkness.
Kita mungkin saja sangat menikmati hamparan luas salju putih. Selentingan memori kanak-kanak membuat salju begitu menggoda. Seolah permen kapas yang siap dijilat. Bayangan permainan ski juga melambai-lambai. Meluncur dengan luncuran sempurna.
Kita mungkin saja begitu bahagia di tengah padang savana. Angin sepoi-sepoi dengan aroma rerumputan, belaian ilalang di tangan seiring perjalanan. Hangat matahari seakana memeluk erat tubuh.
Atau bisa saja kita begitu menyukai deburan ombak, bunyi angin yang begitu merdu beradu dengan kelintingan yang saliing berdenting. Bau garam ikut meninabobokan raga.
Atau barangkali hutan hujan tropis membuat kita nyaman? Dengan bermacam buah menggelantung, pekik hewan-hewan membentuk harmoni, sejuk embun mencumbu setiap inci kulit kita.
Tapi ingatkah kita apa yang membuat lelah kita benar-benar hilang? Yang menenangkan kita setelahnya? Yang sebentar saja mengisi kembali semangat kita?
Tidur. Tidur yang berkualitas. Tidur yang kita lakukan dengan memejamkan mata. Mengantarkan jiwa dan raga pada ... gelap.

Masihkah kita berbeda?
Masing-masing dari kita punya cara sendiri untuk mendeskripsikan diri.  Ada yang monoton, ada yang multiwarna. Jangan pernah lupa, semua memiliki kesamaan: warna

Kamis, 20 Agustus 2015

Merdeka?

Tanggal 17 Agustus baru saja berlalu. Hingar-bingar kemerdekaan masih terasa kental. Suasana yang sungguh sangat menyenangkan, sekaligus mengusik. Kemerdekaan macam apa yang kita ‘anut’?
Saya teringat perbincangan dengan seorang dua orang kawan, yang satu teman ‘seperjuangan’ selama setahun ke belakang mengajar di tempat dengan kualitas pendidikan yang tak sebaik Ibukota (saya memilih istilah tersebut daripada tempat-terluar-tertinggal-terisolir, sebab sebagian tempat mengabdi ada yang jaraknya hanya sekian jam dari ibukota, masih di pulau Jawa, tapi kondisinya sangat berbeda dengan daerah di jawa pada umumnya), yang satu lagi memilih bekerja di perusahaan asing  di bidang perminyakan. Si teman pertama, teman seperjuangan saya, menyelutuk bahwa si teman kedua ini adalah pengkhianat rakyat; bekerja di usaha yang jelas-jelas merampok sumber daya alam indonesia.”Kapan mau ikut serta membayar janji kemerdekaan untuk mencerdaskan anak bangsa?” katanya dengan nada menyindir.
Si teman kedua ini terdiam. Pelan-pelan ia berkata adakah si teman pertama ini bicara demikian karena kiprahnya setahun belakangan?.
“Jelas sih bedanya, elu setahun ngajar di tempat terpelosok, bikin anak-anak yang tadinya gak bisa baca jadi baca, orang-orang jadi nganggep pendidikan itu penting banget. Beda yah, sama gue. Kerja dapet duit banyak dari hasil rampok minyak (bangsa-red) sendiri” Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan.
“Tapi gua percaya, gua gak akan selamanya di sini (di perusahaan minyak-red). Gua Cuma ngumpulin modal seperlunya, biar nanti bisa berbuat sesuatu. Mungkin Cuma sekedar nyekolahin anak orang setinggi-tingginya, tapi gue janji gue akan berbuat sesuatu dari duit rakyat ini” suaranya mulai bergetar, dan saya mendapat afirmasi dari keluhannya selama ini. Lulusan perguruan tinggi teknik ternama di Bandung ini kadang merasa berdosa bekerja di perusahaannya sekarang, seringkali kuanggap sebagai guyonan. Jaman sekarang, mana ada sih yang gak suka dapat duit banyak?
Saya pun merasa malu, setahun di daerah pun sebenarnya gak banyak-banyak amat yang kami kerjakan. Rasanya sombong sekali membanggakan apa yang telah kami lakukan, padahal di sana jauh lebih banyak yang ‘melakukan sesuatu’ tanpa publisitas yang jor-joran. Sebuah karya tanpa gema. Hanya karena kami utusan sebuah LSM pendidikan yang prestisius, apa yang kami kerjakan seringkali diberitakan dengan sangat positif seolah-olah hal tersebut adalah yang luar biasa. Padahal sebenarnya biasa-biasa saja.
Lantas saya teringat perbincangan di malam sebelum peringatan hari kemerdekaan digelar. Seorang teman lain, yang juga teman seperjuangan di daerah selama setahun melempar bola panas: mau apa besok di tanggal 17. Pesannya jelas: mengajak semua untuk berdiri sejenak, menghargai jasa para pahlawan. Demikian itu lebih baik daripada tidur seharian. “Masak para pahlawan udah mengorbankan nyawanya agar kita merdeka,dan elo Cuma tidur seharian?!”
Saya separo setuju dengannya. Sepakat bahwa kita harus menghargai mereka yang telah berjuang untuk kita, yang telah ataupun belum mendahului kita di dunia. Tapi bagi saya, caranya tak melulu dengan upacara di pagi hari.
Saya teringat seorang tua yang saya temui di Shalat Idul Fitri di kampung, tapi tak saya temui di perayaan 17an kampung. Memeriahkan lomba pun tidak. Ia masih membanting tulang. Bukan untuk mengisi kemerdekaan, tapi sekedar untuk mengisi perut anak-anaknya. Lantas, setelah setahun penuh berpeluh demi sesuap nasi, bahkan di hari raya. Alih-alih berkumpul bersama keluarga, Ia mengumpulkan koran bekas sisa Sholat Ied untuk dijual. Maka hari itu, hari kemerdekaan yang sesungguhnya baginya. Hari dimana Ia benar-benar merdeka, dimana Ia mendapatkan haknya sebagai pekerja secara utuh: libur.
Seperti apa konsep merdekamu? Apakah kita masih akan memaksakan konsep merdeka kita pada yang lain? Mewarisi kultur primordialisme yang mengagungkan keseragaman sudut pandang? Saya memilih untuk merdeka; menghargai setiap pilihan yang dibuat oleh orang lain, pun juga diri saya sendiri.

PS: Tulisan ini fiksi, bila ada kesamaan tokoh dan cerita, demikian hanya kebetulan semata

Jumat, 24 Juli 2015

Taklif

Ganda berdecak. Sebuah carrier 70 liter, daypack 35 liter berlogo Ekspedisi, sebuah drypack 50 liter serta sebuah slingback telah berjajar rapi. Telepon genggamnya bergetar, sebuah pesan pendek masuk. Nomor baru.
“Ibu tulus uih ayiena?”[1]
“Nyah, Ulah ceurik nyah...”[2]
“Moal Bu, mun kangen bae Parid mah... Ibu engke kadie deui doang Pak Agung jeung Pak Bagus lin?[3]
Ternyata dari Parid, anak multitalenta yang baru saja lulus sekolah dasar.
“Insya Allah...”
Setahun sudah perjalanan Ganda. Kali ini bermetamorfosis menjadi guru. Berjibaku, mencoba berbagi kisah-kisah perjalanannya. Bergulat dengan keterbatasan, mencoba melengkungkan sedikit bibir membentuk senyum, senyum kepercayaan bahwa dengan belajar, kesempatan semakin terbuka. Setahun yang penuh dengan cerita.
Rasanya baru kemarin, Ia datang dan berjabat tangan dengan pendahulunya. Melepas mereka untuk purna tugas, sambil mereka-reka; bagaimana melewati satu tahun ambisius penuh penanda kemajuan. Ia bukan tipikal perempuan tulen yang merebut hati anak-anak dan ibu-ibu dengan kelembutan. Tapi toh Ia hanya sekedar ‘terduga laki-laki’ –meminjam istilah Sudjiwotedjo untuk manusia yang menganggap dirinya laki-laki, tapi tak mendapati barang bukti di balik sarungnya- yang tidak cukup macho untuk bergulat bersama pemuda dan bapak-bapak di kompetisi sepakbola. Ia, Ganda, hanya seorang laki-laki yang berbungkus raga perempuan.
Sampai Ia memutuskan untuk lepas. Mengalir dalam alunan bertajuk takdir. Sisi maskulin dalam dirinya menolak menjadi lemah. Dan feminitas dalam raganya menunjukkan jatidirinya. Ia harus bertahan hidup. Perjalanan setahun tiba-tiba terasa seperti sekelebat bayangan. Adu sengit strategi tim di kompetisi bola, saling sahut dengan anak-anak di perayaan kemerdekaan, mengompori rekan guru untuk membuat kemah kecamatan, mencicipi kuliner di setiap rumah murid dengan alibi kunjungan wali murid, bermalam bersama anak-anak dari satu lombake lomba lain. Bersenda gurau di antara pelajaran tambahan, suara yang meninggi dipicu perkelahian antar murid, bergosip di antara sharing dengan rekan guru. Sungguh perjalanan melawan batas diri.
Rasanya tetap seolah belum melakukan apapun, rasanya masih banyak yang harus digarap, rasanya ah... rasanya sulit membayangkan orang lain mampu meneruskan perjalanan ini. Tapi ganda harus bergegas. Waktunya telah habis, saatnya beranjak. Bukan berbalik, pergi dan tak pernah kembali. Bukan lari dan acuh. Ini tentang mereka, bukan lagi tentangnya. Setiap orang punya masa, setiap masa punya orang.
 
Gambar diambil dari Album Facebook Kreshna Aditya yang berjudul Pasar Bahasa


P.S: Tulisan ini terinspirasi dari Pasar Bahasa Kreshna Aditya


[1] Ibu jadi pulang sekarang? Bahasa Sunda Banten
[2] Iya, jangan nangis ya...
[3] Tidak akan, Parid takut kangen. Ibu nanti datang ke sini lagi seperti Pak Agung dan Pak Bagus kan?

Selasa, 21 Juli 2015

Bonsai

Bonsai menurut wikipedia adalah tanaman atau pohon yang dikerdilkan di dalam pot dangkal dengan tujuan membuat miniatur dari bentuk asli pohon besar yang sudah tua di alam bebas.

we know that.

Bonsai, sebuah kata yang tak asing lagi, kita tahu apa itu bonsai, meski tak selalu kita jumpai. Mungkin hanya di daerah saya saja sih. Bahkan, di era saya remaja, bonsai jadi sebuah ledekan hangat bagi seorang kawan yang tentu saja berbadan mungil, alias semampai; semeter tidak sampai.

Secara ringkas, tanaman yang dibonsai harus dipotong dahannya secara rutin sesuai dengan rencana agar tumbuh sesuai dengan rencana. Tentu saja, dahan yang dipotong adalah semua dahan yang tidak diinginkan, dahan yang tumbuh tidak sesuai harapan. Meski dahan itu terlihat bagus, kuat dan sehat. bila tak sesuai dengan bentuk ideal, maka dia harus dipotong. Sebaliknya, meski dahan yang tumbuh ringkih, dahan tersebut akan dirawat; bisa jadi dibiarkan tumbuh, atau dipotong terlebih dahulu agar tumbuh tunas pengganti yang lebih kuat.

Saya tak sedang membahas teknis membuat bonsai, saya bukan ahli bonsai.

Saya hanya sedang teringat akan bonsai saat berbincang dengan seorang kawan, tentang kehidupan.

No one have to take responsibility of my life except myself. I am the united of my past choices
kata-kata itu tertancap kuat di kepala saya akhir-akhir ini. Hingga seorang kawan menyelutuk; 
".. So by seeing the condition that I am in right now,  my choices were not good"

Saya tersentak.
I have nothing to said.

Perlu hampir 45 menit bagi saya untuk berpikir keras, berusaha memahami kata-kata kawan tadi.

Lantas saya teringat, beberapa kali dalam hidup saya, saya merasa telah mengambil keputusan yang 'salah'. Lalu saya mencoba membayangkan, bila saat itu saya mengambil keputusan yang berbeda, bagaimana keadaan saya sekarang? Pasti tidak sama. Mungkin lebih baik, jauh lebih baik, tidak lebih baik atau bahkan tidak baik.

Life is about choices, even it's just a yes no question.
Disadari dan diakui atau tidak, kita selalu punya pilihan untuk kita pilih. Kita yang memilih untuk bangun pagi pukul berapa, dan melakukan apa setelahnya. Kita bisa memilih melanjutkan hari-hari membosankan yang telah kita lalui, atau membuat arah baru. Kita bisa memilih untuk 'memilih' orang yang kita cinta, atau memilih orang yang 'memilih' mencintai kita. Kita bisa memilih merasakan kehadiranNya atau mengabaikanNya. 

Persis seperti bonsai.
Setiap bonsai dibentuk mengacu bentuk dasar tertentu. Tegak lurus, tegak berkelok-kelok, miring, sarung angin, dan sebagainya. 
Seorang pembonsai harus memotong setiap dahan yang tak sesuai dengan bentuk dasar yang diacu. Dahan yang tak diinginkan, yang tak sesuai dengan bentuk dasar acuan, bisa jadi dahan yang sangat bagus sehat, kuat. Tapi 'bagus', 'sehat' dan 'kuat' saja tak cukup. Hingga pada akhirnya, parameter 'benar' maupun 'salah' adalah kesesuaian bentuk bonsai saat ini, dengan bentuk dasar acuan. Hanya dahan yang sesuai dengan bentuk dasar acuan yang boleh tumbuh.

I am not the Bonsai. I have no blue print of my life.

And yes we are, but we do have a blue print. Sebuah tinta biru kehidupan yang bisa jadi belum kita pahami bentuk keseluruhannya. Sebuah rencana kehidupan maha dahsyat yang bekerja secara menakjubkan, mengarhkan kita pada pengambilan keputusan tertentu yang mungkin nampak random, tapi pada akhirnya bagian dari pola yang begitu personal. There is harmony in chaos. Saya menyebutnya Takdir.
(sumber gambar: wikipedia)